Seni Esek-Esek


Aku Berusia 26 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta. Sebetulnya seks adalah sebuah dunia yang aku kenal sejak aku masih di bangku SMP dimana saat itu aku sudah mulai berani mencoba berciuman dan mencumbu dada teman-teman wanitaku. Entah kenapa aku selalu mendapatkan semua teman wanitaku dengan mudah. Hmm.. mungkin aku ganteng kali yah? Tapi tidak juga yang paling aku rasakan adalah aku pandai membuat suatu suasana, obrolan dan dapat memancing keinginan seks para wanita.


Aku akan menceritakan satu dari sekian banyak pengalaman petualangan seks-ku. Waktu sekitar awal tahun 1999 tepatnya di sebuah kawasan pendidikan di Jakarta Selatan. Saat itu aku baru pulang dari sebuah bengkel dan hendak belok ke arah jalan rumahku. Tepat di ujung jalan aku terhambat oleh sebuah mobil Colt yang sedang mogok di pertengagan jalan itu. Di belakang mobil Colt itu ada juga mobil sedan yang ternyata nasibnya sama denganku. Setelah agak menunggu, tiba-tiba dari balik mobil sedan itu keluarlah seorang gadis dengan tubuh semampai, rambutnya hitam lebat dan digerai dan dia langsung membantu untuk mendorong Colt tersebut. Aigh.. aku terpana. Hmm, lumayan juga nih cewek, ringan tangan dan suka menolong, gumamku dalam hati. Lalu aku ikuti apa yang dia lakukan dan akhirnya aku pun ikutan membantu mendorong mobil tersebut.

Kami bertatapan sejenak dan hanya saling senyum. Hmm, manis ternyata, warna kulit kuning langsat dan dihiasi bulu-bulu halus di tangannya. Setelah mobil Colt itu beres, aku kemudian mencoba menyapa,
"Hai... egh capek yah? Ckckckc.. kuat juga kita dorong berdua," begitu kataku memancing pembicaraan, dan dia menjawab,
"Iyalah, kasihan bapak itu..."
Terus aku tersenyum dan menyodorkan tangan.
"Oh yah, saya Yoga..." dan dia memberikan tangan kembali,
"Saya Nina..."
Terus aku bertanya,
"Hmm sepertinya kamu orang baru di sini.." begitu kataku, dan dia menjawab,
"Iiyah... aku lagi akan ikutan test untuk ambil program spesialisku nih..." jawabnya ramah.
"Oh.." kataku, "Terus.. kamu kost dimana?"
"Dekat kok.. di sebelah jalan ini..." jawabnya singkat sambil meletakkan posisi kancing bajunya yang terlepas satu.
Alamak... aku melihat belahan dadanya yang putih mulus.
Hmmm... yummi, begitu pikirku.
Setelah ngobrol alakadarnya akhirnya aku dapat juga alamat kost-nya dan aku berjanji akan mengunjunginya suatu saat.

Seminggu lewat, dan aku belum berfikir untuk mengunjungi Nina karena kesibukan mengurusi kuliahku. Setelah 10 hari aku tidak sengaja bertemu Nina di sebuah toko buku, dan dia menyapa, "Yog, Yoga!" panggil dia. Aku mencari arah suara dan melihat dia tersenyum. Hmmm.. manisnya, kemudian dia menagih janji,
"Mana.. katanya mau ke tempat kostku?"
"Oh iyah yah..." jawabku belaga bodoh.
"Kapan? sekarang...?" kataku.
"Iyahlah.. sepi nih aku, nggak ada temen ngobrol..." katanya.
Setelah urusan belanja buku selesai akhirnya dia dan aku menuju tempat kostnya. Wah.. ternyata memang enak tempat kostnya, kecil tapi nyaman. Setelah duduk dan melihat-lihat, dia pamit.
"Eh Yog.. kalau maau minum... ambil aja coca-cola kalengnya. Habis di sini kalo mao ambil air mesti turun ke bawah," katanya.
"Oke, gampanglah," kataku seenaknya sambil tiduran di karpet dan bantal besar di kamar kostnya.

Aku tidak memperhatikan dia kemana, yang aku tahu dia masuk ke kamar mandi, dan hanya terdengar gemericik air. Agak lama dan membuatku jenuh. Setelah lihat-lihat di mejanya aku menemukan sebuah buku yang judulnya "OK", "The Art of Kiss". Langsung kulihat buku itu dan hmm.. lumayan ada gambar dan cara-cara membuat wanita terlena saat berciuman. Asyik bolak-balik dengan buku itu, tanpa sadar. Nina sudah ada di sampingku sambil tengkurap dan ikut membaca, "Wah... doyan kamu Yog, bagus nggak?" tanyanya. "Egh.. hmm... kamu Nin... koq lama sih..." tanyaku, dan aku balik ternyata dia sudah menggunakan "linger" warna abu-abu, "Glek... glek..." leherku tercekat melihat pemandangan indah, "Hufff" betul-betul indah tubuh Nina dengan kulit kuning langsat dan bulu-bulu halus di tangan dan pahanya membuat nafasku naik turun, begitu juga dengan batang kemaluanku. Aku ikutan tengkurap, soalnya takut ketahuan kalau batang kemaluanku sudah tegsng, maklum 18 cm. Kalau tegangkan bisa "tengsin". Akhirnya membicarakan tentang masalah ciuman dan aku mencoba memancing, dimana apakah dia ingin berciuman dan ciuman apa yang ingin dia rasakan sekarang? Hehehehe... dan berhasil juga aku mencium lembut bibirnya. Hmm, aku pagut bagian bibir bawahnya, kuhisap dan ujung lidahku menggelitiki permukaannya kenyal dan empuk bibirnya Nina.

"Hmm... hmmm.. mmh..." bibir kami saling bertauan, saling melumat dan saling mengejar lidah yang saling menari-nari di antara rongga mulut. "Hmm... mmmh..." lalu leherku dirangkulnya dan tangannya menuruni dada dan... "Aagh..." tangan Nina masuk ke dalam balik kemejaku. "Hufff..." dia melekatkan kedua tanganku di dadanya. Huff... gila, tidak pakai BH ternyata. Hmm... dengan segala kepiawaianku dalam hal "menete" maka kulancarkan "serangan fajarku". Sambil berciuman aku jalari lidahku di telinga dan lehernya. "Uhhh ohh..." dia merem-melek keenakan. Tanganku langsung membelai punggung, pinggul dan memutar dari arah perut menuju dada. Aku menggunakan ujung jemariku yang memberikan sentuhan-sentuhan yang dahsyat, "Ahahh... Yog.. ahh, uh.. ssst... agh..." hanya suara itu yang terdengar dari mulut Nina. Aku terus menyentuh dia dengan sentuhan-sentuhan lidah, bibir dan jemariku, "Agh... Yog.. hmmm... kamu... aah..." Aku termasuk orang yang menyukai sentuhan sebagai foreplay karena bagiku sentuhan adalah "kualiatas" seks. Tanganku mengusap lembut dan akhirnya aku menuju buah dadanya. Ughh... man! kenyal sekali buah dadanya, 36B, dalam hatiku.

Aku mengitari permukaan buah dadanya perlahan. Kuusap lingkarannya, kuputari tanpa menyentuh putingnya, "Aahh... hmmm..." Nina penasaran dan terus menekan-nekan pinggul dan buah dadanya ke arahku. Aku semakin gembira kalau lihat cewek penasaran. Kugunakan ujung jariku untuk menyentuh pelan, dan kemudian kuusap lagi buah dadanya, kusentuh kemudian kuremas dengan lembut, "Aaggh... ohh Yog... uh... Yog..." Nina meracau sambil merem-melek memanggil namaku. Akhirnya kumainkan kedua tanganku, kupilin, kutekan, pilin, tarik, remas, dan pilin dari arah atas, bawah, kanan, kiri. Tangan Nina menggapai pinggangku dan dia bilang, "Yog.. ah... jangan bikin aku penasaran dong! Ugh... Yog..." kuarahkan kedua tanganya untuk lebih kreatif di tubuhku. Kubisikan ke telingannya, "Nin, boleh 'nenen' yah..." dia hanya mengangguk dan membuka seluruh linger-nya. Wow... akhirnya bisa kujinakkan Nina yang sudah kerangsang ini.

Ternyata Nina sudah terangsang, dia membuka kemejaku dan... "Aaargh..." puting dadaku di kenyot oleh Nina. Ugh... ah.. aku suka sekali gerakan lidah dan bibir mungilnya di dadaku yang cukup bidang. Uh... sambil dihisap dan dia pilin dengan ujung lidah, kubelai rambut punggungnya, dan pantatnya erghh.. hmm.. pantat Nina kenyal dan berisi. Aku gemas, hmm kupeloroti perlahan CD-nya dan dia memandangku, "Kamu mau Yog?" tanyanya. "Mau dong!" kataku sambil melucuti CD-nya Nina. Lalu Nina berdiri dan dia turunkan CD-nya dan tampak tubuh seorang gadis bugil di depanku. Damn! indah sekali tubuhnya. Dia lalu mengajakku bediri dan dia membuka seluruh kemeja, jeans dan akhirnya CD-ku. Kami bugil dan saling berpandangan, mengagumi tubuh masing-masing. Tanpa bicara aku berlutut, dan langsung kucumbu perut Nina yang sedang berdiri. Tanganku menggapai-gapai buah dadanya. Dengan lincah kuremas dan kupilin putingnya. Nina membelai rambutku dan dipegang erat pundakku, lalu kuangkat kaki kanannya dan kugantungkan di pundakku, huf... aku mencium bau surga dari kemaluan Nina. Kukecup, kujilat bibir-bibir kemaluannya, bulu-bulunya pun basah oleh air liurku.

Aku langsung merebahkan dia di atas kasurnya, kakinya menjuntai ke bawah dan kulebarkan selangkangannya, kuhisap klitorisnya dan kutusukkan ujung lidahku ke dalam rongga kemaluan Nina, "Ohhh yeshhh... aaahh yeahh... sssttt ogh.. hhh.." Nina mengerang dan berusaha menggapai-gapai pundakku sambil menusukkan lidahku di rongga kemaluannya. Tanganku terus memainkan kedua buah dadanya bergantian. Uhh.. pilinan jariku ditambah kombinasi tarian lidahku di kemaluan Nina membuat dia semakin menghentakkan kepalanya dan pinggulnya. Tak terasa cairan kewanitaannya sudah berkali-kali kuhisap dan kujilat.
"Slurrp.. yummi..."
"Urgghhh... Yog... aaagh.. Yog... aaahh..."
Aku terus membuat dia tak berdaya dengan foreplay-ku yang dahsyat. Akhirnya dia menggelinjang dan mengangkat pinggulnya yang kedua kali. Huff, pemandangan yang seksi, kalau melihat wanita orgasme.
"Uurghh.. Yog.. please... argh..." pintanya, "Please...!"Aku masih menjaga ritme permainanku. Sudah satu jam lebih aku membuat foreplayyang dahsyat untuk Nina. "Ufgh... uhhm... slurrpp..." lidahku menari-nari di pangkal paha dan kemaluannya. Yeahh... akhirnya aku berdiri dan Nina mencoba menggenggam batang kemaluanku yang sudah dari tadi tegang. Nina menggenggam dan dia terbelalak melihat batang kemaluanku yang panjangnya 18 cm dengan urat-urat yang kokoh. Dengan rakusnya Nina menjilat dan mengocok batang kemaluanku. Aku memejamkan mata sambil bersandar dan membelai rambutnya. Sekali-kali aku hentakkan perlahan batang kemaluanku dan dia agak tersedak karena batang kemaluanku panjang dan besar. Ugh, dihisapnya kepala kemaluanku dan ditekan-tekan lubang batang kemaluanku dengan lidahnya. "Sssst.. uhhh.. hhmm.. arggh... argh... ohhh Nin... oh yeah... uh..." aku hanya bisa mengerang menahan nikmatnya mulut Nina melahap kemaluanku. "Terus Say... ufgh... ayo Nin... hhmm kamu suka Sayang?" kataku. Dia hanya mendelikkan matanya, dan mengangguk pelan. Kepala Nina turun naik mengulum batang kemaluanku. Sekali-kali dia mengibaskan rambutnya, yang menghalangi. Aku kemudian meraih rambutnya, agar Nina lebih leluasa menikmati kemaluanku.

Ujung lidah Nina membelai dan menyapu, batangnya dari pangkal hingga ujungnya. Lalu dia turunkan ke arah buah zakarku, di bawah buah zakarku lidahnya menjilat-jilat dan dihisap kecil, "Aaahhmm... hmm.." pangkal pahaku pun tak luput dari serangan lidah Nina. Ogh.. Nina ternyata pemain lidah yang hebat, pikirku. Kubiarkan Nina menghabiskan seluruh "improvisasi"-nya di batang kemaluanku. Aku mengimbanginya dengan mengguncangkan kedua buah dadanya dengan memegang kedua putingnya dengan jepitan jariku. Mmm.. hentakkan kepala Nina semakin gencar turun naik. Huff.. jariku menyentuh bulu kemaluan Nina yang ternyata sudah lembab. Aku gesekkan telujukku dan mendapat respon Nina lalu menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Aku terus menuruni kemaluannya dengan agak sedikit menekan, "Uhh..." kemaluan Nina begitu lembut terasa di jariku. Kunaikkan arah jariku dan menyentuh klitorisnya. "Argh..." Nina mendesah, dan mengejan sambil merem-melek. Nina ternyata langsung tidur dan melebarkan pahanya. Kutindih dia, kugeser dan kukesampingkan, kuguncangkan jariku di klitorisnya dengan kombinasi gesekan jenggotku di putingnya. Nina menggigit pundakku dan mencengkeram sprei kasurnya. Huff.. ternyata sensasi dagu yang habis cukuran membuat sentuhan "sensasional".

Kumasukkan jariku ke dalam lubang kemaluannya, lalu Nina mendorongku dan meraih batangku. Diarahkannya batang kemaluanku. Kuusap lembut lubang kemaluannya. Dengan ditopang oleh lutut maka kukangkangi dia, kulebarkan kedua pahanya. Kepala kemaluanku aku sentuh di mulut kemaluannya. Kuusap-usap dengan batang kemaluanku. Nina menghentakkan pinggulnya seraya ingin segera lubang kemaluannya "ditusuk" dengan batang kemaluanku. Aku dengan pelan mulai mengarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kutekan pelan, Nina menggigit bibirnya dan mendesah, "Arggh... Yoga.." belum 1/2 dari batang kemaluanku masuk aku putar kiri kanan kemaluanku sambil kutarik sedikit dan masukkan. Aku sengaja memberi sensasi seperti ini agar Nina benar-benar bisa merasakan "SENI BERCINTA" dengan kemaluanku, "Aarghh.. sst.." Nina meracau lagi. Aku masukkan lagi sedikit, kukeluarkan dan akhirnya... "Bless..." batang kemaluanku terbenam penuh di lubang kemaluannya.

Kudiamkan sesaat, kubiarkan Nina merasakan lubang kemaluannya merasakan denyutan otot urat kemaluanku. Kudiamkan sambil kukecup kening dan melumat bibirnya, lalu aku naik-turunkan perlahan, agh.. aku menggunakan metode "234" yaitu metode: 2 kali tarik lurus, 3 kali masuk goyang dan 4 kali hujaman mentok sambil tekan dan goyang tarik sedikit. Ritme kujaga karena bagiku senggama adalah "improvisasi seni". Asyik dengan hujaman batang kemaluanku, aku terus melumat buah dada Nina dan kugigit kecil putingnya. "Arghh.." Nina menjambak rambutku dan mengangkat pahanya tinggi-tinggi, dia orgasme. Kugenjot terus, lambat dan cepat. Kugoyang terus batang kemaluanku, kuubek-ubek isi kemaluan Nina, "Aarghh.. argh.." goyang-goyang sodok, goyang-goyang sodok. Irama batang kemaluanku, kutarik-sodok yang dalam goyang. Aku membuat gerakan-gerakan yang dahsyat. Keringat tubuh kami sudah bercampur. "Ogh.. Yog.. argh... kamu.. agh.. aku capek..." katanya. "Aagh.. Yog.. kamu apain memekku Yog.. aarggh..." Nina terus kuhujami dengan batang kemaluanku. Hmm... sudah 2 jam ternyata, akhirnya aku mempercepat gerakan batang kemaluanku. "Slepp... sleppp.. slepp..." hujaman batang kemaluanku membabi buta di dalam kemaluan Nina. "Arggh.. uhh.. Nin.. hmmm..." ujung kepala batang kemaluanku mulai berdenyut, "Aghh.. Yoga.. ugh.. keluarin sperma kamu Say.. urghh kasih aku Say.." begitu kata Nina. Aku semakin bersemangat, aku tambah tempo gerakan kemaluanku keluar-masuk, "Plak.. plak.. plak," bunyi paha kami berbenturan. Lubang kemaluan Nina semakin berdenyut-denyut dan melumat seluruh batang kemaluanku. "Agh.. uh.." kuhujamkan terus, tarik-masuk lalu...
"Cret.. cret... crottt... crett..."
"Aaargh..."
Batang kemaluanku menembakkan sperma berkali-kali disaat aku benamkan penuh di dasar lubang kemaluannya. Aku mengejang dan membiarkan kemaluanku menumpahkan cairan cinta ke dalam lubang kemaluan Nina. "Ohh yeah... Yoga ugh... hangat Yoga.. ufgghh.. nikmat Saay..." Nina menikmati sekali semprotan spermaku.

Kubiarkan batang kemaluanku terhujam sampai akhirnya keluar sendiri karena ukurannya berubah menjadi kecil. Hmm, sungguh alami 'kan? Lalu aku rebah di samping Nina sambil mengecup pipinya dan membelai manja. Rambutnya kudekapkan kepalanya di dadaku sambil membiarkan iramanya nafasnya teratur. Lalu aku bangkit dan mengambil selembar tissue, aku bersihkan kemaluannya dan pahanya dari sisa-sisa spermaku, dia hanya tersenyum dan kukecup lagi perutnya. Dia lalu bangkit dan membersihkan sperma di batang kemaluanku, lalu kami berciuman kembali, mesra dan hangat sambil membelai, lalu dia tertidur. Aku pun bergegas memakai kembali pakaiannya, lalu aku pamit, sambil kukecup keningnya sekali lagi.

Tamat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seni Esek-Esek"

Posting Komentar