Petir Sialan


Aku terbangun saat terdengar gemuruh petir, dan bersamaan itu juga terdengar suara ketukan dipintu. Aku melihat ke jam. Saat itu masih tengah malam, dan sedang hujan di luar. Saat pintu terbuka, aku melihat adikku Ditta masuk ke kamarku membawa selimut. Dia mengenakan baju tidur , kemeja lengan panjang biru dengan gambar anjing kuning tercetak di atasnya dan sangat pendek menunjukkan kesesksiannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanyaku, masih bingung karena setengah tertidur.
“Ibu bilang ade boleh tidur sama kakak malam ini,” jawabnya.
“Kenapa kamu tidak tidur di sofa aja?”
“Sudah di tempati .” Dua ekor kucing kami telah membuat sofa menjadi tempat tidur mereka dari dulu, dan kami tidak memiliki keinginan untuk melatih mereka dengan lebih baik atau mengusirnya ke luar.
Aku menatap kosong ke arahnya sesaat, melihat dia dalam cahaya yang terpendar dari monitor komputer ku, yang aku biarkan menyala. Aku memperhatikan piyama yang dia kenakan yang dibelikan ibu tahun lalu. Piyama katun tua yang dikenakan cukup tipis, dan jelas terlalu kecil. Bagian atas terlalu ketat di dadanya, dan sedikit terbuka di antara kancing-kancingnya, memperlihatkan kulitnya yang putih.
“hujan menghancurkan jendela di kamar ade dan air hujan masuk di sana.”
aku menjadi lebih segar sekarang, aku menjadi sadar karena suaranya terdengar hampir menangis. Akhirnya setelah lebih segar, aku bangkit dari tempat tidur.
“Tentu, de, masuklah. Siapa yg melarang?”
Dia duduk di tempat tidurku. “Kakak gak dengar suara kaca pecah dalam badai tadi, tapi suara petir membangunkan kakak, sepertinya semuanya sudah basah kuyup di kamarmu”
“Ibu bilang kita harus menunggu sampai pagi untuk mengurusnya. ” Aku tahu dia lelah dan hampir menangis.
“Mari kita tidur,” kataku. Dia bangkit dan meletakkan selimutnya dilantai. “kenapa kamu gak tidur ditempat tidur, Dek? Biar kakak yang di bawah.”
“Ade gak mau ngusir kakak dari tempat tidur kakak.”
“Aku gak apa apa, sungguh, setelah kamu basah kuyup, kamu harus tidur nyenyak. Besok sepertinya akan repot, sebelum kita kuliah, kita harus mengurus kamarmu.”
“Terima kasih kak.” Dia naik ke tempat tidur dan langsung tertidur.
Saat merapikan alas tidur, aku melirik ke komputerku dan merasa malu. Kamarku selalu menjadi tempat teramanku, Ibu dan Ditta jarang masuk kamarku, dan aku cenderung lupa bahwa aku tinggal dengan orang lain saat berada di kamar. Aku sedang melihat film porno secara online sebelum aku pergi tidur, dan tidak mau repot repot menutupnya saat sudah selesai. Di layar ada gambar cewek yang sedang memberi blowjob pasangannya. Mejaku berada persis di sebelah tempat tidurku dimana aku berbicara dengan adikku tadi, dia tidak mungkin tidak melihatnya. Aku berjalan kearah komputerku dan menutup browser. Sebelum mematikan monitor, aku mengecek Ditta untuk memastikan dia tertidur. Lalu aku merangkak ke alas tidur dan mencoba melupakan rasa maluku.
Keesokan paginya Ibu membangunkan kami lebih awal dan kami diajak masuk ke kamar Ditta. Jendela yang pecah sangat mudah diganti, tapi ada banyak tempat yang basah karena air. Karpet dan tempat tidurnya seperti habis direndam. Ditta membiarkan lemari pakaiannya terbuka semalam, dan air masuk mengenai ke sebagian besar bajunya di sana. Hanya barang-barang di lemari satunya yang masih kering. Kami menutup jendelanya dengan papan sementara dan meletakkan pakaian basah di ember. Ibu bilang dia akan mencucinya di laundry. Lalu tiba waktunya untuk kami bersekolah.
Ditta dan aku selisih satu tahun dan pergi ke universitas yang sama, di mana aku mahasiswa tingkat dua dan dia adalah mahasiswa baru. Aku mengantar dia ke kampus dan rumah setiap hari. Kampus kami cukup dikenal, dan kita berada di kelas yang berbeda, kita jarang sekali bertemu di siang hari. Setelah sekolah hari itu kami bertemu di mobil untuk pulang, dan dia terlihat sedang kesal. Di dalam mobil aku bertanya padanya ada apa.
“Ade ngajak makan siang Merry dan Cindy hari ini.” Ketiganya tidak terpisahkan di sekolah menengah, tapi begitu mereka kuliah, keduanya telah mencampakkan adikku yang pemalu untuk bergabung dengan kelompok perempuan yang lebih populer. Baru beberapa bulan berlalu, dan Ditta sedang mencari teman baru. “Merry dan pacar barunya ngeledekin aku, dan Cindy memintaku duduk di tempat lain.”
“Maafin kakak ya.” Karena malu sendiri tidak bisa membantunya, aku tahu betapa sepi yang dia rasakan, tapi aku tahu tidak ada yang bisa aku bantu kecuali bersimpati. Saat mobil berjalan, aku sedikit mengerang.
Ditta menatapku. “Ada apa,” dia bertanya, prihatin.
“Gak apa apa, badan kakak hanya sedikit sakit dan pegal karena tidur di lantai tadi malam.”
“Maaf, kakak harus tidur di tempat tidur malam ini.”
“Gak, aku gak bisa membiarkan kamu tidur di lantai adikku sayang. Gak begitu sakit kok, aku hanya tidur dengan posisi yang salah.”
Setelah kami sampai di rumah, aku membantu Ditta memindahkan beberapa pakaian gantungnya ke dalam lemari aku. Lemari ku masih ada ruang, dan kami bisa menjejalkan semuanya.
Lemariku diisi sampai penuh, lalu aku duduk di kursi komputerku beristirahat.
“Terima kasih sudah mau berbagi kamar dengan ade kak, sampai kamar ade selesai diperbaiki lagi. Ade tahu kamar ini selalu menjadi ruang pribadi Kakak, dan adegak suka mengganggu privasi kakak.” Dia melirik layar komputerku yang kosong untuk sesaat, dan aku ingat kejadian semalam. Menyadari rasa maluku, dia dengan malu-malu mengalihkan pandangannya dan mengganti topik pembicaraan. “Ade mau turun dan makan Mie, kakak mau apa?”
Aku menenangkan diri. “Gak usah, terima kasih, Kakak mau mandi dulu, dan kakak tidak masalah berbagi kamar dengan kamu dek, hanya akan ada sedikit penyesuaiaan. Kakak tahu kamu sedih banyak barang ade yang rusak. Tapi anggap aja seperti kamar adek sendiri dan cobalah untuk merasa nyaman. ”
Dia keluar dan aku masuk ke kamar mandi. Ditta dan aku berbagi kamar mandi, yang terhubung ke kedua kamar secara langsung. Biasanya ketika salah satu dari kita sedang menggunakan kamar mandi, kita mengunci pintu yang lain. Ketika aku berdiri di kamar mandi, aku mencoba untuk rileks dan tidak khawatir dengan masalah adikku atau rasa malu ku sendiri karena kejadian tadi malam, dan lebih memusatkan perhatian pada air yang merilekskan otot-otot ku yang sakit. Masih asyik, aku keluar dari kamar mandi, lepas handuk, dan menuju ke kamarku untuk berpakaian seperti yang telah aku lakukan seribu kali sebelumnya.
Aku masuk ke kamarku dan melangkah beberapa langkah sebelum membeku. Berdiri di depan lemariku dengan pintu terbuka lebar adalah adik perempuanku, telanjang bulat dengan punggungnya membelakangi aku sedang mencari pakaian dalam di rak lemari. Dia sedikit lebih pendek dariku, dengan rambut hitam panjang dan lurus dan kulitnya terlihat lembut dan putih. Tubuhnya sudah berkembang, dan bentuknya begitu sempurna, dengan pinggulnya berbentuk bulat. Sesaat aku membeku, dia berbalik dan melihat aku berdiri di sana, dan untuk sesaat kami berdua hanya berdiri dan saling menatap.
Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya telanjang sejak dia kecil, dan pertama kali aku melihat wanita telanjang secara pribadi. Dia memiliki payudara bulat, kencang, b-cup, dengan puting besar yang sepertinya menudingku. Meskipun aku bisa saja menatap lekuk lembut payudaranya sepanjang hari, mataku tertunduk melewati perutnya yang lembut dan rata. Rambut kemaluannya hitam, dan rapi dan liar pada saat bersamaan. Cara dia berdiri, aku bisa melihat profil bibir vaginanya, terbentang sedikit.
Saat aku menatapnya, aku menjadi sadar bahwa dia juga menatap aku, dan mengikuti matanya, aku ingat aku baru selesai mandi juga telanjang, dan penisku terlihat penuh, tumbuh lebih besar dan lebih kaku.
Dia menatapku dan mata kami terkunci beberapa saat. Seperti malam sebelumnya, dia mencoba menghindari saat yang memalukan itu.
“Maaf, ade mau ganti baju dan sedang mencari celana dalam yang bisa ade pakai. Semua celana dalam ade ada di barang yang harus dibersihkan.” Aku sadar dia sedang memegang celana boxerku. Dia cepat-cepat memakainya dan mengenakan salah satu kemejanya, sesaat aku berdiri diam dengan hampa, tak tahu harus bagaimana, menutupi diriku atau mundur ke kamar mandi.
“Ini agak longgar, tapi masih pas lah.” Dia memakai celana jins dan berbalik meninggalkan lemari, berhenti sebentar, lalu memperhatikan tubuh telanjangku dan keluar kamar.
Aku selesai berpakaian dan duduk canggung di meja makan bersamanya saat makan malam, tidak mengatakan apa-apa. Setelah Ibu pergi ke dapur untuk beres-beres, aku menoleh kepadanya dan berkata, “De, kira-kira tadi di atas-”
“Jangan khawatir tentang itu.” Dia menatap lantai dengan ekspresi netral di wajahnya. “Kita tinggal bersama, sekarang lebih dari sebelumnya, dan seperti yang kakak bilang, kita harus sedikit menyesuaikan diri.” Dia menatapku dan tersenyum manis padaku. “Dan menurut ade ini bukan masalah besar jika saudara laki-laki dan saudara perempuan melihat masing-masing telanjang.”
Kami menonton TV untuk sementara waktu sampai Ibu pergi tidur, lalu meninggalkan sofa untuk kucing kucing kami dan berjalan menuju kamarku untuk bersiap-siap tidur. Aku pergi ke kamar mandi lebih dulu untuk bersiap-siap, dan memastikan aku memberi Ditta cukup waktu untuk memakai piyama nya sebelum aku masuk kembali ke sana.
“Giliranmu,” kataku saat aku keluar. Saat Ditta menuju ke kamar mandi, aku kembali melihat celah di antara kancing kancing piyama di bagian pahanya, tertutup dan terbuka saat berjalan karena baju yang terlalu kecil. Celahnya memperlihatkan kulitnya yang lembut tampak lebih besar dari tadi malam, tapi membuat penasaran. Aku juga bisa melihat di bagian dadanya melengkung lembut, dan membayangkan bisa melihat payudaranya yang besar lagi. Saat berjalan melewatinya, aku melihat pantatnya yang bundar, melihat warna celana boxer yang lebih gelap-celana dalam celana katun yang sudah usang itu. Aku membayangkan celana dalamku sendiri bergesekan dengan bibir vaginanya yang lembut. Sesaat kemudian, pintu kamar mandi tertutup.
Kejadian sore tadi telah membuatku jadi horny. Biasanya saat aku horny di malam hari, aku akan duduk di depan komputerku dan mengunjungi beberapa situs favoritku, tapi hanya ada waktu beberapa menit sebelum Ditta kembali, kuputuskan itu bukan pilihan malam ini. Aku menanggalkan t-shirt dan celana boxer-ku, masuk ke sleeping bag yang sudah kusiapkan dan mencoba membersihkan isi kepalaku untuk bisa tidur.
Ditta kembali masuk dan melihat aku sudah di lantai. Dia mematikan lampu, hanya menyisakan sedikit cahaya dari monitor, dan naik ke tempat tidur, membungkus tubuhnya dengan selimut di sekelilingnya erat-erat seperti kepompong. “Pasti dingin di sini malam ini,” katanya. Dia benar.
“Angin masuk dari jendela kamar ade yang rusak jadi semua udara dingin masuk ke sini melalui kamar mandi.” Aku keluar dari kantong tidur dan menjejalkan handuk di bawah pintu kamar mandi.
Ditta memperhatikan aku saat aku melakukannya. “kakak seharusnya tidak tidur di lantai yang dingin, apalagi kakak sedang sakit.”
“Dan kakak macam apakah aku jika membiarkanmu tidur di sana?”
Ditta menatapku sesaat dan ragu-ragu. “Kita bisa, um, kakak tahu lah, berbagi tempat tidur. Ada cukup ruang untuk kita berdua.”
Aku juga ragu dengan gagasan itu. Aku masih tidak bisa membuang sosok Ditta yang telanjang dari kepalaku, berbagi ranjang bisa jadi ide yang buruk. Di sisi lain, lantai terasa dingin dan keras dan bahuku terasa sakit. “Baiklah, hanya untuk malam ini.” Dia bergeser ke tepi ranjang tanpa berbicara denganku, masih terbungkus. Aku hanya melompati tubuhnya untuk mengambil ke sisi dinding, berbaring miring menghadapnya. Ditta membuka sebagian selimut dan mengulurkan meletakkan selimut di atas tubuhku. Dia membelakangiku, dengan jarak yg begitu dekat. Aku bisa merasakan panas tubuh yang keluar dari tubuhnya, tapi aku mencoba mengeluarkannya dari kepalaku.
“Selamat malam, dek,” kataku.
“Selamat malam.”
Aku hampir saja tertidur saat Ditta berkata, “Ade masih kedinginan.” Dia mundur ke belakang dan meraih lenganku dan menariknya ke atas dirinya sendiri dan menepuk-nepuk tubuhku, menarikku ke punggungnya dan menyandarkan pantatnya ke pangkal pahaku. Aku merasakan tubuhnya yang hangat melalui kemeja katun kami. Dengan tangannya di atas tanganku, dia menariknya dan meletakkan telapak tanganku dirusuknya. Aku merasakan jari-jariku tepat berada di celah antara kancing kemejanya dan dapat menyentuh kulitnya yang lembut. Untuk waktu yang lama aku hanya menahan tanganku di sana, tidak berani bergerak, merasakan kulitnya yang lembut hanya beberapa sentimeter dari payudaranya. Semua pikiranku hilang dan hanya merasakan sensasi di ujung jari-jariku. Aku bahkan tidak berani bernafas karena takut kehilangan momen itu.
Lalu aku merasakan sesuatu yang lain. Penisku mulai membengkak dengan cepat. Ini karena pantat Ditta menekannya dengan lembut, tidak mungkin kusembunyikan. Seiring bertambahnya, penisku semakin mendesak ke pantanya. Di bawah tanganku aku merasakan napas Ditta semakin cepat, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya tegang. Aku duduk tak bergerak, takut akan apa yang terjadi tapi lebih takut kehilangan perasaan ini.
Ditta mulai bergeser, dan aku merasa panik saat berpikir momen ini semua akan hilang. Tentunya dia akan menjauh dariku. Tapi aku terkejut dia mengayunkan pantatnya ke depan dan ke belakang, menekan dirinya lebih kebelakang menekan penisku yang keras. Pada saat yang sama, dia menarik tanganku lebih jauh ke lubang di bajunya. Dia pasti sudah membuka satu kancing lagi, karena kedua tangan kami dapat meluncur masuk dan naik menyusuri rusuknya sampai jariku menempel di bagian bawah payudaranya. Aku bisa merasakan setiap bagian tubuhnya, dari tangannya sampai ke kakinya, bahkan lebih tegang dari sebelumnya. Meski jantungnya berdegup kencang, dia tetap terbaring tidak bergerak.
Adikku sudah mengambil langkah lebih dulu; Mungkin dia sedang menunggu untuk melihat reaksiku apakah aku akan mengambil langkah lebih jauh. Dengan perlahan aku mulai menggerakkan jariku ke sisi dadanya, menunggu ada tanda penolakan. Tidak merasakan apa-apa, aku semakin berani dan menggerakkan tanganku. Dengan hanya menggunakan ujung jari, aku membelai tepi dadanya, takut setiap saat dia menjauh dariku.
Saat jari-jariku mengitari dadanya, aku mulai memijatnya dengan lembut di telapak tanganku. Jari-jari aku berputar ke dalam, dan aku perlahan-lahan mengelilingi areolanya sebelum mengarahkan telunjuk dan jempolku ke putingnya.
Aku tidak pernah merasa lebih terstimulasi sepanjang hidupku. Kontolku mulai melompat sedikit dalam kegembiraan melawan pantat Ditta, dan saat aku menangkupkan payudaranya dan menyentuh putingnya, dia menarik napas pelan dan mulai menggosok ke atas dan ke bawah penisku dengan pantanya, perlahan pada awalnya, tapi kemudian lebih kuat saat aku mendorong penisku lebih kedepan. Meskipunkami masih berpakaian, aku dapat merasakan penisku terletak di antara pipi pantatnya dan aku mendorongnya dengan lembut ke arahnya.
Aku mengarahkan tanganku yang lain melalui bawah kepalanya dan membuka kancing bagian atasnya, dan meraih payudaranya yang satu lagi. Tanganku yang lain bisa bebas sekarang,dan ku gunakan untuk membuka kancing-kancing yang lain dan menarik bajunya terbuka. Lagi-lagi jari aku membelai dirinya, kali ini kulit lembut yang berada tepat di atas pinggangnya. Setelah beberapa putaran aku mulai mengarahkan satu jari di bawah keujung celananya di sisinya, lalu yang lain, yang satunya lagi masih membelai dan meremas lembut dadanya. Aku merasakan kulit pinggulnya di bawah celana boxer-ku saat dia terus menekan pada penisku, dan perlahan-lahan menggerakkan tanganku ke perutnya, menjaga jariku di dalam celana.
Dia memegang tanganku sedetik kemudian, lebih pelan menuntun tanganku ke bagian lain yang lebih ke bawah, aku mulai menggerakkan jemariku lebih jauh. Pertama yang kusentuh adalah rambut vaginanya, dan aku teringat betapa hitam warnanya. Aku membelah jari-jariku dan mendorong melewati rambutnya, telapak tanganku sekarang menekannya.
Ketika aku melanjutkan lebih rendah lagi, aku merasakan dorongan adrenalin terbesar dalam hidupku, apalagi ketika sampai menyentuh kulit lembut vaginanya. Dengan hanya menggunakan dua jari, aku dengan lembut menelusuri satu jariku di setiap bibir vaginanya. Dia tersentak sedikit dan berhenti mengerakkan pantatnya. Seketika saja aku kaget dan takut dia akan menarik diri dan marah dan yang bisa aku lakukan aku berhenti sejenak, tapi tidak mungkin aku bisa menghentikannya. Dengan hanya satu jari aku melingkari lubangnya, merasakan kulit bibir vaginanya yang halus dan lembut. Dia meraih satu tangan di atas kepalanya dan mengarahkan ke belakangnya, mengusap rambuku dan mencengkeram bagian atas kepalaku. Tangannya yang lain tergelincir dengan cepat ke pakaian dalamnya ke atas tanganku, dia mencengkeram tanganku, dan menekannya ke vaginanya. Dia mulai mengosokkan pantanya ke pangkal pahaku lagi, dan penisku sepertinya terbungkus
dengan daging pipi pantanya.

Aku mencengkeram dadanya lebih erat dengan satu tangan dan meraih jariku dan menyentuh tepat di tengah vaginanya, merasakannya menjadi lebih basah dan lembut daripada yang pernah kubayangkan. Tangannya menekanku lebih kencang, dan aku menjulurkan jariku ke dalam dirinya. Dia menghembuskan napas dan menghirupnya dengan tajam dan menarik kepalaku menekan lebih keras di punggungnya. Aku mendorong jariku masuk dan keluar dari dirinya, menggosok ujungnya ke arah yang terasa seperti kerutan di dalam vaginanya. Jari-jariku yang lain pada awalnya menyenggol bagian luar, tapi kemudian dengan tangannya dia menarikku lebih keras ke arahnya, mendorong jempolku ke area di bagian atas vaginanya. Karena tidak dapat menarik jariku, aku semakin cepat menekuk jari aku dengan gerakan cepat di dalam vaginanya, menggosok ujung jariku ke arahnya secepat dan sekuat tenaga. Dia menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah mengikuti setiap gerakan jariku dan dia menekanku dengan segenap kehangatan dan kekuatannya, napasnya cepat dan dangkal.
Saat kami melanjutkan, tangan aku mulai lelah, tapi aku tidak berani berhenti, dan dia terus bergerak melawan aku lebih keras dan lebih cepat. Akhirnya, dia meledak di pelukanku, tubuhnya menyentak dan menekan tanganku, dada dan penisku. Aku memeluknya erat-erat, satu tangan sambil meremas dadanya. Aku bisa merasakan vaginanya meremas keras jari aku berulang kali saat aku terus mendorongnya ke dalam dirinya. Orgasme nya sepertinya berlangsung selamanya.
Saat dia menyentak akhirnya melemah dan berhenti, dengan lembut dia menarik jariku dari vaginanya sampai ke perutnya. Dia menggoyang pantatnya melawan penisku lagi, dan aku merasakan seluruh tubuhnya relaks di pelukanku. Beberapa menit kemudian dia tertidur lelap. Aku tertidur sambil memeluknya, dan berharap aku bisa berbagi kamar dengan adikku selamanya

The 2nd Day
Aku masih terbayang jelas sekali kejadian semalam saat bersama adikku pagi ini ketika berangkat kuliah. Aku harus berbagi kamar dengan adikku ditta dikarenakan jendela kamarnya rusak karena hujan dua malam yang lalu. Kemarin, secara kebetulan kami berdua berhadapan dalam keadaan telanjang bulat di kamarku. Lalu tadi malam karena udara terasa dingin memaksa kami harus berbagi satu tempat tidur.
Apa yang terjadi di tempat tidur setelah lampu dipadamkan masih seperti mimpi. Kegembiraan, ketakutan, kehangatan dan rangsangan, semuanya terasa seperti sesuatu yang sepenuhnya diluar kebiasaanku, yang sehari hari hanya berkutat di kuliah, mobil, komputer, dan TV. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikir akan mungkin benar-benar terjadi, namun aku mengingatnya dengan jelas sekali.
Aku melirik Ditta di kursi sebelahku. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku sepanjang pagi saat kami bersiap untuk kuliah atau bahkan di dalam mobil, ini suatu hal yang tidak biasa. Aku bertanya-tanya apa yang diingatnya tadi malam. Apakah dia merasakan keraguan yang sama dengan ku? Apakah dia merasa malu karena kejadian semalam, atau bahkan mungkin menyesalinya? Mungkin ini mimpi baru buatnya, dan dia juga mungkin bertanya-tanya mengapa aku bertingkah aneh pagi ini? Aku mencoba menghilangkan kecemasan ku dan mempersiapkan diri untuk kuliah.
Hari ini adalah hari terpanjang kuliah buatku. Kelas demi kelas, aku menatap kosong pada dosen, buku, atau hanya menatap ruang kosong, memikirkan kejadian tadi malam. Aku tahu itu bukan mimpi, karena setiap detail terukir begitu kuat dalam otakku. Aku memikirkan berulang-ulang mengapa dia menekan peniskuku dengan pantatnya, merasakan kulitnya saat dia menarik tanganku ke kemeja piyamanya, penisku terjepit di antara belahan pantatnya, menarik tanganku ke dalam celana dalamnya, mengusapkan jariku masuk jauh ke dalam vaginanya yang basah, menikmati momen saat dia orgasme. Entah itu mimpi atau bukan, aku sangat menginginkan terjadi lagi.
Akhirnya bel terakhir berbunyi dan aku berlari keluar untuk menemui adikku , menjemputnya dan mengajaknya pulang ke rumah. Melihat dirinya berdiri menungguku di sana membuat jantungku berdegup kencang, dan aku harus cepat-cepat mengalihkan perhatianku agar tidak terlihat aneh di depan semua orang. Aku memalingkan muka darinya untuk mengalihkan perhatianku, dan melihat teman-teman lama Ditta, Merry dan Cindy, dan sekelompok gadis yg sedang tertawa.

Merry dan Cindy adalah teman dekat Ditta di SMA, tapi selama beberapa bulan pertama kuliah mereka, mereka mencampakkan teman mereka yang pemalu, Ditta, untuk bergabung dengan kelompok yang lebih populer. Sekarang aku melihat mereka, melihat Ditta sedang ditertawakan oleh mereka, dan melihat salah satu dari mereka membisikkan sesuatu padanya. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi itu membuat tawa kelompok itu semakin tinggi. Ditta hanya berdiri di sana dengan memunggungi mereka dan tidak menanggapi, tapi dia terlihat tegang seperti aku pernah melihatnya dan dia sedang menahan air matanya.
Aku berjalan mendekati Ditta seperti biasanya, berharap dengan kehadiranku entah bagaimana bisa meredakan ledekkan dari dua gadis yang baru saja melirikku. Kelompok itu hanya membisikkan beberapa hal satu sama lain dan terus tertawa. Kurasa aku juga bagian dari lelucon mereka sekarang.
“Ayo pergi,” kataku lembut pada Ditta, dan kami berjalan ke mobil.
Begitu kami agak jauh, dia mulai menangis. Aku tidak bisa memikirkan apa pun yang bisa dikatakan untuk membantunya merasa lebih baik, dan bahkan saat aku mencoba untuk berkata, yang terjadi adalah mataku malah lebih tertarik ke arah payudaranya dan berpikir kapan aku bisa menyentuhnya lagi.
Aku sadar. Ditta sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit dan emosional dengan keadaan kamarnya yang berantakan dan kesepiannya di kampus. Yang dia butuhkan sekarang adalah teman dan pelindung, bukan orang yang mencoba melepaskan bajunya. Aku kemudian memutuskan bahwa aku tidak akan membuatnya melakukan hal lain, tidak peduli betapa aku menginginkan untuk mengulangi kejadian semalam.
Setelah sampai di rumah, kami memeriksa bagaimana keadaan kamarnya hari ini. Aku berharap agar dia segera bisa kembali ke kamarnya, dan itu mungkin bisa membantu menyelesaikan beberapa masalah yg di hadapinya, dan yang terpenting dapat menghilangkan godaan yang ada padaku. Saat kami membuka pintu kamar tercium bau yang tidak sedap di sebabkan oleh karpet lantai yg masih basah. Air hujan yang ada di kamarnya telah menyebabkan jamur. Ruangan itu tidak layak untuk dihuni sampai semua dibersihkan. Ibu bertanya jika kami bisa menemukan seseorang yang bisa membersihkan kerusakan dengan segera, diperlukan waktu cukup lama untuk seorang kontraktor mengganti karpet dan wallpapernya serta mengecat semuanya. Sampai saat itu, kami harus tetap satu kamar.
Kemudian ibu meminta kami berganti pakaian dan kemudian membantunya membereskan kamar Ditta.
“Kamu dulu aja dek yg ganti pakaian, aku membantu ibu dulu sebentar.” Tanpa berbicara dia lalu berbalikmenuju kamarku, tak berapa lama dia keluar telah berganti dengan pakain yg lebih santai, atasan kaus putih bergambar “Nike” yang panjangnya hanya kira kira 5cm di atas pusar dan bawahan legging hitam yang membalut kakinya dengat ketat.
Aku berusaha untuk tidak membayangkan apapun dan berlaku seperti biasa, aku tidak ingin ibu tahu kalau aku memperhatikan adikku.
“Dek, kamu bisa mulai dengan membereskan buku-buku di atas meja kamu, dan masukkan ke dalam dus-dus ini!” ibu memerintah.
‘Ya bu”
Aku kembali mencoba menyibukkan diri dan berusaha tidak memperhatikan adikku, tapi apa daya mata ini selalu mengarah untuk melirik dia. Ada sesuatu yang berbeda kulihat saat adikku bergerak mengambil buku-buku yang basah dan memindahkannya ke dalam dus-dus di bawah meja, ada sesuatu yang menarik perhatianku dan membuat mataku untuk selalu kearah itu. Sesuatu yang memantul setiap dia bergerak, yup…… aku dari tadi memperhatikan payudaranya. Terlihat sepertinya dia telah melepaskan bra nya, dan payudaranya yang cukup besar itu ikut bergerak memantul saat dia menunduk ataupun berdiri. AHH…. Pikiranku kembali pada saat tadi malam, saat aku bisa dengan bebas bermain di atasnya membelai dan meremas bahkan memuntir putingnya.
Kulihat dia berjongkok dan merapikan buku-buku yang dia masukkan secara acak dan berantakan, posisinya membelakangi aku dari tempat aku berdiri aku bisa melihat sedikit belahan pantatnya karena posisi celananya yang agak tertarik entah dia sadar atau tidak.
Sambil aku membersihkan tembok dari wallpaper yang rusak karena basah, aku terus memperhatikan adikku yang sedang merapikan buku-buku, dia bekrja tanpa bicara, hanya sekali –kali dia berdiri untuk mengambil buku yang ada di atas meja atau di atas rak. Kadang saat dia berdiri untuk mengambil buku di atas rak aku dapat melihat bagian bawah payudaranya yang putih, hal ini makin membuatku horny. Akhirnya kuputuskan untuk fokus pada pekerjaan ku untuk menghilangkan horny ini.
“Kak…….”
“Bisa bantu aku untuk mengambil buku, itu” tiba tiba dia memanggilku sambil tangannya mengarah ke rak di dinding. Cukup tingi memang.
“Sebentar..” aku menghampirinya. Saat telah dekat kulihat ada tonjolan kecil yang tampak jelas di kausnya, serta bagian agak kehitaman di sekitar tonjolan kecil tadi. Kok bisa ya putingnya berdiri, atau…….
“KAKAK…….”
“eh ……. ya….. apa?” sahut ku kaget.
“ Dengerin gak sih”.
“ Eh.. maaf…..aku gak nyimak tadi”
“Kakak angkat aku aja biar aku yang ambil bukunya.”
“HAH!!!”
“Lho kenapa? Kakak gak kuat ya?”
“Bukan begitu… biar kakak aja yang ambil.” Gimana kalau kakak horny sambungku dalam hati. Bagaimana tidak, dengan kondisi dia berpakaian seperti ini dan membayangkan sekali lagi aku memeluknya saja sudah membuatku terangsang, apalagi mengangkat dia.
“Kakak gak akan sampai.”
“Sudah kakak angkat aku aja!” nadanya seperti memberi perintah atasan pada bawahannya. Aduh gimana ini,
Penisku sudah mulai berdiri mendorong celanaku ke depan. Aku tak ingin adikku tahu kalau aku terangsang membayangkan dia.
“Ayo dong Kak!”
Tak ada pilihan lain aku terpaksa mengangkat dia. Ku posisikan diriku berada di belakangnya dan melingkarkan lenganku di pinggangnya, terasa lembut kulitnya saat kulit tenganku bersentuhan langsung dengan kulit perutnya. Kuangkat dia dan segera dia meraih buku-buku di rak itu dan menjatuhkannya tepat di dalam dus yang kosong.
“Yak sudah kah, kakak bisa turunkan aku sekarang.”
Aku menurunkannya tapi saat hampir kakinya menyentuh lantai kedua tangannya berpegangan pada tanganku, dan ketika kakinya sudah menyentuh lantai ketika aku mencoba melepaskan tanganku dari perutnya, tangannya menarik kedua tanganku ke atas, hingga tanganku kembali bisa merasakan bagian bawah payudaranya. Gila adikku nekat sekali dengan adanya ibuku di ruangan ini, bisa saja kami ketahuan. Tapi spertinya dia tak perduli dan tetap meneruskan mengarahkan tanganku pada payudaranya. Akhirnya tanganku kembali berada di payudaranya seperti semalam, kuremas pelan payudaranya, dan jariku mencoba mencari putingnya yang sudah berdiri tegak. Dia melenguh pelan saat aku memuntir ke dua putingnya bersamaan. Pantanya lagi-lagi bergerak menggesek penisku yang masih setengah tegang. Gerakannya makin cepat saat aku mencoba mencium bawah telinganya mencoba membangkitkan birahinya. Nafasnya mulai berat kudengar, lalu dengan tiba-tiba saja dia bergerak melepaskan tanganku dan kembali duduk membereskan buku-bukunya. Dia bekerja seolah-olah tidak ada kejadian tadi. Dan dia tidak menoleh sedikitk pun kearahku.
Kami memindahkan sebagian barangnya ke garasi. Ketika kami selesai, waktu sudah menunjukkan jam 19.00 malam jadi kami langsung menuju ke kamarku.
“Aku akan bersantai di kamar mandisebentar,” katanya, masih terdengar canggung. Tiba-tiba Ditta menarik kaosnya melewati kepalanya, lalu menarik turun celana legging hitam yang di pakainya, memperlihatkan kulit putih tubuhnya tanpa selembar benangpun. Sebelum dia masuk ke kamar mandi, dia mendekat dan memelukku, setengah tengadah dalam pelukanku sejenak.
“Terima kasih atas bantuan kakak,” katanya. Sambil menekan tubuh lembutnya kearahku , dan aku harus berbalik sehingga penisku yang keras tidak menggosok pinggangnya.
Dia menuju ke kamar mandi dan aku duduk di tempat tidurku sejenak sambil memikirkan kejadian tadi.. Kudengar suara air dari shower, dan aku tidak bisa menghentikan pikiranku air yang mengalir di tubuhnya yang telanjang. Aku melirik pintu kamar mandi dan melihat pintu itu terbuka. Handuk yang aku letakkan di bawah pintu tadi malam untuk menahan agar udara dingin, terjepit di bawahnya dan telah menghentikan pintu agar tidak menutup semua jalannya. Ragu sejenak, aku bangkit dan mendekati pintu dan mengintip ke dalam.
Ditta sedang berdiri telanjang di kamar mandi yang membelakangiku. Dia memiliki tubuh yang ramping, pinggul yang membulat, kulitnya halus dan lembut. Mataku memperhatikan kakinya dari lantai sampai ke pahanya, lalu berhenti di tempat dagingnya bulat yang melengkung membentuk pantatnya. Pantatnya tegas tapi sangat bulat, dan aku teringat tentang bagaimana penisku telah ditekan antara belahannya semalam dengan hanya dibatasi lapisan katun tipis di antaranya.
Lengannya terangkat di atas kepalanya membasuh rambutnya, dan dia berbalik sedikit ke samping, memberi aku pandangan garis besar payudara kirinya. Tiba-tiba, dia menjatuhkan jepit rambut di lantai dan membungkuk untuk mengambilnya. Aku terkejut oleh gerakan yang tiba-tiba dan takut dia berbalik dan melihatku, tapi tetap terpaku padanya. Dia membungkuk perlahan tanpa berbalik dan mengambil jepit itu di lantai. Belahan pantatnya membuka sedikit, dan di antara belahannya itu, itil kecilnya yang merah jambu itu mengintip keluar. Aku hanya bisa terpaku dan mataku terkunci melihat apa yang ada di antara pahanya. Bibir vaginanya masih tampak bersih, dengan bulu-bulu hitam yang kuingat pernah kulihat di depan di lemari kemarin. Dia rupanya menemukan pinnya, dan saat dia membungkuk sedikit lebih jauh untuk meraihnya, bibir vaginanya lebih membuka, memberikanku gambaran sekilas tentang daging merah muda di dalam.
Aku sangat ingin jariku kembali ke tempat dimana jariku sempat masuk kedalamnya,terbersit pikiran untuk masuk ke dalam kamar mandi, Tapi Ditta bangkit berdiri, memasukkan jepit rambut dirambutnya, melangkah ke shower, dan kembali membasahi tubuhnya dengan air.
Akhirnya aku menarik diri dari pintu, mundur dua langkah dan duduk di kursi depan komputerku. Tidak ingin meneruskan mengintip adikku karena kami berbagi kamar untuk sementara ini, akan sangat sulit bagiku jika meneruskanya, terutama mengingat betapa horny-nya aku. Kuputuskan aku perlu meringankan diriku sendiri, dan waktu mandi Ditta mungkin satu-satunya kesempatanku saat ini untuk onani. Aku berbalik ke arah komputerku, membuka risleting celanaku, mengeluarkan penisku, dan mulai membuka situs favoritku. Aku bias saja langsung orgasme pada sentuhan pertama, karena aku begitu bernafsu dan mungkin tidak mendapat kesempatan lain lagi untuk sementara waktu ini, aku harus buru-buru, dan aku tahu bahwa Ditta akan mematikan air shower sebelum dia kembali ke kamarku. Aku memilih situs demi situs sambil membelai penisku. Akhirya ku temukan satu situs porno dan langsung memilih satu film yang kusukai. Saat aku sedang mencoba merangsang diriku sendiri,tiba-tiba suara airnya berhenti.
“Kak tadi ibu bilang kita harus turun kalau sudah siap untuk makan malam?” Seru Ditta dari kamar mandi. Tanganku membeku di penisku dan dengan panik aku menutup browser internet. Aku memasukkan penisku ke celana dan mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar mandi. Aku bisa melihat jelas dari tempatku berada, tapi tidak melihat Ditta. Aku bergerak cepat tak bersuara menjauh dari komputer dan kamar mandi dan duduk di ranjang sebelum menjawab.
“Ya,” jawabku, berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan napasku yang cepat.
“Ya Sudah, Ade akan keluar sebentar lagi,” jawabnya. Aku duduk dan diam-diam memaki diriku sendiri.
Ditta keluar dari kamar mandi dengan piyama mandinya, suasana hatinya tampak jauh membaik. “Merasa lebih baik?” Aku bertanya.
Dia melirik sekeliling ruangan sebentar, lalu menoleh ke belakang. “Ya, Ade ngerasa lebih segar sekarang.” Dia tersenyum lembut dan keluar menuju lantai bawah.
Selesai makan, malam sudah larut, tapi Ibu ingin membicarakan soal kamar Ditta lagi. Ditta sudah beranti pakaian yang lebih santai. Ibu selalu perduli pada kami, dan ia senang sekali mendiskusikan apa yang akan dikerjakan jika itu berhubungan dengan anak-anaknya, tentang semua detail membosankan tentang apa yang di cover oleh asuransi rumah dan sebagainya. Kupikir ibu sebagai orang tua tunggal berusaha untuk membuat anak-anaknya cukup diperhatikan, Ibu mengunkapkan rencananya membantu Ditta memperbaiki dan merapikan kamarnya, agar dapat mengurangi beban putrinya karena harus berbagi kamar dengan kakaknya. Setelah cukup Ibu bergegas kekamarnya untuk tidur .
Ditta dan aku pergi ke kamar aku dan aku menuju ke kamar mandi lebih dulu untuk bersih-bersih.
“Jangan terlalu lama di sana, Ade cape banget dan mau sikat gigi.” Kata adikku. Kami berdua masuk dan keluar dalam beberapa menit, aku memakai celana boxer dan t-shirt dan dia lagi-lagi mengenakan piyama katun biru tua kemarin. Saat Ditta naik ke tempat tidurku, aku berhenti sejenak. Berpikir tentang apa yang harus ku lakukan, apakah aku harus berbagi tempat tidur dengannya atau tidur di lantai, aku mematikan lampu dan meraih bed cover untuk matras tidurku.
“Ini akan sama dinginnya seperti kemarin malam,” kata Ditta. “Dan ade akan kedinginan lagi. Tolong jangan membuat diri kakak sakit lagi seperti sebelumnya.”
itu adalah undangan yang aku tunggu-tunggu, tapi aku malah ragu. Ini adalah bagaimana kejadian kemarin itu berawal. Apa Ditta tahu dengan apa yang kuinginkan? Meskipun aku tahu seharusnya ini tidak boleh terjadi, aku tidak bisa menahan diri dari kesempatan ini. Aku menghabiskan sepanjang hari ini dengan menahan nafsuku tanpa dapat melepaskannya dan sama horninya seperti kemarin. Aku sangat menginginkan kejadian semalam terulang lagi, tapi tetap saja tidak percaya kalau adikku mengajak tidur seranjang lagi malam ini.
Aku meletakkan bed cover kembali ke tempatnya, penisku sudah tegang sekali. Sengaja, aku mencoba menutupinya dengan tanganku saat aku bergerak ke arah ranjang sehingga dia tidak dapat melihatnya walau dengan hanya di terangi cahaya dari monitor komputer.
Aku naik ke bagian tepi tempat tidur kali ini, adikku dekat dengan tembok, dan berbaring miring memunggunginya “Selamat malam,” kataku dengan suara serak dan seriang mungkin.
Ditta menarik selimut menyelimuti tubuhku dan berbaring menghadapku dengan jarak yang cukup jauh di antara kami, kami berada di masing-masing ujung tempat tidur. Dia lebih relax dari sebelumnya, dan malam telah larut, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan di tubuhnya. Aku rasa dia takut kalau aku akan mencoba berbuat sesuatu padanya. Aku sama tegangnya juga seperti dia sebenarnya, dan masih merasakan tekanan penisku di celanaku. Aku memutuskan untuk menunggunya tertidur.
Kami berbaring di sana dengan tegang selama beberapa menit, saat tiba-tiba kami mendengar suara anjing menggonggong dari luar. Bukan hal yang biasa terjadi pada malam hari, karena tidak banyak warga disini yg memelihara anjing. Tetap saja, itu cukup mengejutkan kami berdua, dan Ditta terbangun dan merubah posisinya telentang. Dia kemudian meraih pundakku dengan tangannya dan menekan tubuhnya ke arahku, sedikit menggigil. Sekali lagi aku mencoba menenangkannya membantunya untuk tidur lagi, kembali ada sensasi tambahan kehangatan dari tubuhnya dan nuansa lembut tangannya di bahuku.
Setelah beberapa menit usahaku yang gagal untuk tidur,Aku merasa Ditta menggeser tangannya dari bahuku. Dia bergeser meletakkan kepalanya di belakangku tapi memberi jarak antara perut dan punggung kami. Kami sama-sama tegang. Aku sangat menginginkan dia memulai sesuatu lagi seperti kemarin malam. Aku hanya bisa meletakkan tanganku di pinggangku menunggu, dan berharap.
Semenit lagi berlalu, dan aku merasa Ditta sedikit lebih rileks lagi. Napasnya menjadi lambat dan teratur. Kurasa dia pasti tertidur. Saat kekecewaanku meningkat, tiba-tiba Ditta menarik napas perlahan dan sedikit bergeser lebih mendekatiku. Tangannya bergerak ke atas dan ke bawah di perutku, sepertinya dia mencari posisi yang lebih nyaman. Setelah beberapa detik tangannya terangkat, menarik ke atas t-shirtku, menyelipkan sedikit demi sedikit jarinya masuk ke t-shirt ku dan jarinya kini tepat di bagian pinggangku. Jemarinya yang panjang dengan ujung yang lembut, perlahan bergerak turun dan aku hanya bisa merasakannya rabaannya di kulitku, tak berani bergerak, Ditta pun diam tak bergerak.
Aku merasa sangat frustrasi dan gugup, adrenalinku sudah setinggi semalam, tapi aku merasa dia sudah tertidur nyenyak, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menunggu. Kemudian dia menarik napas lagi, dan jari tangannya mulai perlahan dan ringan menggosok kulitku, turun perlahat mencari tepi celana boxer ku dan kemudian tangannya masuk dan berhenti hanya satu inci dari ujung penisku yang keras.
Mungkinkah dia hanya pura-pura tidur? Ataukah dia terbaring di sana menginginkan hal yang sama seperti aku, karena takut ditolak seperti aku, dan mencoba untuk mengetes aku menunggu apa yang akan aku lakukan? Aku kembali menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Celana boxerku tak begitu baik dalam hal menahan penisku yang ereksi. Aku mencoba bergerak dan menggeser pinggulku sedikit, cukup dekat sehingga akhirnya penisku bisa tersentuh tangannya. Jika dia benar-benar sedang tidur, dia tidak akan merasakannya, tapi jika dia hanya pura-pura aku akan tahu kalau dia menginginkan diriku.
Sesaat kemudian, rupanya dia lebih berani, tangannya mulai bergerak lagi. Dia menggesernya ke bawah sedikit dan menyentuh kepala penisku, sampai akhirnya penisku hampir seluruhnya berada di bawah telapak tangannya, lalu menggosok sedikit. Dia menarik tangannya lagi hanya menyisakan jarak 1cm dari jari kelingkingnya dengan penisku dan berdiam di sana, seolah menguji aku lagi. Jantungku berdebar kencang saat merasakan itu dan aku menarik napas dalam dan keluar perlahan dengan hati-hati, sebagai isyarat untuknya.

Tangannya bergerak lagi perlahan, lalu lebih turun. Jemarinya bersentuhan melewati rambut pubisku, tangannya berada di atas penisku sekarang. Kemudian dengan satu jari, dia mengusap dan menyentuh lubang di kepala penisku untuk pertama kalinya. Dia perlahan mengusapnya dengan ujung jari membentuk lingkaran,turun ke bawah dan kemudian kembali ke atas. Dia mengitari jarinya di sekitar kepala penisku lagi.
Saat dia tengah membelai penisku, dia mendekatkan kepalanya dan mencium leherku dengan ringan, lalu lagi dan lagi. Ciumannya menelusuri arah ke telingaku, dan dia berbisik padaku. Suaranya lembut, dan bergetar terdengar.
“Ade sengaja membiarkan pintu kamar mandi terbuka sedikit untuk Kakak saat mandi tadi, aku berharap kakak akan mengintip aku.”
Dia terus mengusap jarinya di penisku. Aku menoleh ke arahnya. “kakak ngintip ade tadi, maafin kakak ya,kakak tidak dapat menahan diri, kakak membayangkan kamu terus sepanjang hari ini. Ketika Ade membungkuk untuk mengambil jepit rambut, itu adalah hal terseksi yang pernah kakak lihat.”
Selesai aku berkata itu, dia perlahan menggenggamkan seluruh jari tanganya di penisku dan meremasnya lembut.
“ade juga ngintip Kaka tadi, waktu ade masih di kamar mandi. Ade melihat kakak menggosok penisKakak membuat ade ingin sekali menyentuhnya.” Dia mulai mengocok penisku naik turun, dan dia menjilatkan lidahnya di bagian telingaku.
Aku telentang dan berinisiatif menurunkan celana boxerku, sekaligus dengan celana dalamnya. Akhirnya bebas sudah penisku, tapi dia tubuhnya malah bergerak menjauh dari tubuhku. Tapi tangan Ditta masih menggenggam dengan kuat dan terus membelai perlahan penisku. Dia kembali maju dan mencium pipiku. Masih tetap membelai penisku, dia berbisik pelan dan ragu-ragu padaku. “Mau gak Kakak menyentuh Ade lagi, di tempat yang sama seperti yang Kakak lakukan tadi malam?”
Aku tanpa berpikir panjang lagi langsung menyelipkan tanganku ke celana piyamanya. Dan aku terkejut ternyata dia tidak memakai pakaian dalam lagi. Jari-jariku kembali bergerak melewati rambut pubisnya dan jari-jariku menari-nari di bibir vaginanya dengan riang.
Sambil meringkuk, dia tetap mengocok penisku, dan aku mengusap-usap jariku di antara bibir vaginanya, sedikit demi sedikit tapi semakin dalam.
Aku terdiam beberapa saat, kemudian memasukkan jariku ke dalam vaginanya lagi, seperti yang kuharapkan sepanjang hari ini. Gerakan tangannya begitu lembut di penisku, dan aku luar biasanya dapat bertahan tidak ejakulasi saat itu juga. Aku menarik jariku keluar dan memasukannya lagi berulang-ulang, mengikuti setiap gerakan tanganya di penisku. Dia mulai mengocok lebih cepat dan lebih cepat lagi, dan aku melakukan hal yang sama, mengeluarkan dan memasukkan jari tengahku di vaginanya. Akhirnya dia mengarahkan tangannya yang bebas dan memmegang tanganku yang sedang divaginanya, memaksa jariku untuk tetap berada di dalam dirinya dan menekan jempolku ke arah bagian atas vaginanya. Dia mulai menggerakkan pinggulnya untuk menekan tanganku, dan aku hanya dapat mengikuti instruksi tangannya. Aku mengusapkan ujung jariku di dinding dalam vaginanya yang lembut, bergerakk lebih cepat dan lebih cepat lagi. Masih memegang tanganku, dia menekan pahanya erat-erat.
Dia telah orgasme dan seluruh dinding vaginanya berdenyut di tanganku, vaginanya meremas jariku lembut disaat tubuhnya mengejang. Penisku ikut bereaksi melihat dia orgasme dan akhirnya aku juga orgasme dengan kocokan tangannya yang masih terus bergerak, spermaku menyembur kencang tak terlihat karena kamar gelap, dalam keadaan masing-masing masih menyemprotkan cairan orgasme, orgasme yang kami rasakan sepertinya terus berlanjut, dia juga masih membelai dan mengocok penisku.
Saat kami akhirnya selesai, kami hanya berbaring tanpa bergerak, jariku masih di vaginanya dan jarinya dengan lembut masih melilit penisku. Saat aku akan tertidur, aku bertanya-tanya apakah ini hanya mimpi. Untuk membuktikan pada diriku sendiri ini bukan mimpi, aku membungkuk dan memberi Ditta ciuman panjang dan lembut di pipinya.
“Terima kasih ya dek.”
“Ade juga terima kasih ya kak”
Dan kami pun terlelap

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Petir Sialan"

Posting Komentar