Kakak Cantik


Kriiiiing Kriiiiing Kriiiiing…..

“Syah bangun udah pagi nih”

“Hoaaaemmmm iyaaaa dikit lagi nih, bentar napa”

Kriiiiing Kriiiiing Kriiiiing…..

“Syah bangun wooy, alarm lu matiin dulu, bikin berisik aja nih pagi-pagi kaya begini”

Cklekkk…

“Syah bangun lu, gila apa yah alarm sekeras gitu lu ga bangun bangun.” Wajah cantik nan rupawan itu tak beranjak dari pintu dan kini ia masuk lebih kedalam lagi,

“Woy lu mau tidur sampai kapan sih, lu ga sekolah apa?” ia mendekati kasur dan menggoyang-goyangkan tubuhku

“Lu tidur apa pingsan sih dek? dibangunin kok susah amat” masih tetap iya menggoyangkan tubuhku dan…. ya aku berjalan perlahan-lahan dari balik pintu yang dibuka tadi,

“Hayooo lu kak ngapain teriak teriak” aku mengagetkan kakakku yang sedang menggoyangkan tumpukan guling yang kuselimuti dengan rapi

“Kyyyyaaaaaaaa aduh lu syah pagi-pagi udah rese, gimana kalo jantung kakak mu ini copot? Gimana coba?” sambil mencubiti diriku yang pasrah ini

“Kalo copot ya tinggal dipasang lagi, sini aku bantuin kalo masang hehehe” jawabku dengan seenaknya

“Ihhhhh, nyebelin deh elu syah pagi-pagi udah bikin bete aja!”

“Hahahahahahaha abisnya seru sih godain kakak”

“Seru darimana coba ih, dasar dah sebel kan jadinya kalo niat baik malah diginiin!” sambil manyun dan memasang wajah bete

“Iya deh maaf ya kak, iseng doang kok tadi aku, jangan marah dong kak” memelas lah wajahku ini siapa tau kakak ku bisa luntuh juga hatinya.

Tik tok tik tok, masih tidak ada jawaban kalau aku sudah dimaafkan dari bibirnya yang seksi itu

“Kakak siskaaaaaa maafin arsyah yaaaaa” ucapku dengan nada manja agar ia mau memaafkanku

“Tau dah dek pokoknya hari ini kamu berangkat sendiri, mobilnya kakak bawa pokoknya titik!” kakakku beneran marah kali ini, dan mengeluarkan jurus andalannya

“Ihh kakak kok marah nya jelek gitu sih pake nyuruh aku berangkat sendiri”ucapku melakukan pembelaan terhadap hukuman yang dilakukan oleh kakakku ini,

“Dah ah kakak mau mandi dulu, selamat berjalan kaki dan naik angkot ya dek, ini sebagai balasan karena kamu udah bikin kakak bete pagi ini” seraya meninggalkan aku yang masih melongo tidak percaya akan apa yang kakakku perbuat pagi ini,

“Tapi kak tapi… “

“Kan jauh sekolah ku dari sini, bisa bisa aku telat kak, plis dong aku ikut nebeng kakak juga” kali ini aku benar benar panik karena jam sudah menunjukkan pukul 06.12 dan kakakku ga mau barengin aku ke sekolah.

“Semangat ya dek jalan kaki dan naik angkotnya” ucapnya kepadaku sambil berlari menuju ke kamar mandi meninggalkanku yang masih berdiam diri di kamar

Hmmmm ini udah jam 6 lebih sementara sekolahku masuknya jam 07.00, mandi Cuma butuh 10 menit dan perjalanan ke sekolah 20 menit, yess berarti masih ada waktu kalau aku mandi sekarang terus berangkat. But wait! Ternyata kakakku sudah masuk kedalam kamar mandi terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui kalo cewe mandinya itu lama dan itu bukan mitos, ternyata dia telah memiliki siasat untuk berlari ke kamar mandi tadi agar aku terlambat ke sekolah. Segera aku ke depan pintu kamar mandi dan mengetuknya

“Kakaaaaaak plis aku dulu dong yang mandi, kakak kan pasti lama nih kalo mandi” teriakku panik kepada kakakku yang entah sedang apa didalam kamar mandi

“Dek kamu pernah dengar kata ‘siapa yang cepat dia yang dapat’ ga dek? Hihihihi” godanya dari dalam kamar mandi.

“Ahhh kak siskaaaa seriusan nih telat, aku gamau kalo rekor ga pernah telatku bakalan terpatahkan hari ini” teriakku dengan kesalnya.

Ya memang benar selama SMA kelas 1 dan 2 aku tak pernah terlambat masuk sekolah, aku memang orang yang disiplin terhadap waktu, bagiku terlambat itu sungguh sesuatu yang menyebalkan, tapi kalo ‘terlambat’ yang itu bisa mengasyikkan bisa membuat kita panik…. ahhh sudahlah kenapa aku malah berpikir yang itu, kali ini aku harus berpikir bagaimana caranya agar aku bisa ke sekolah tanpa terlambat. “Apa aku harus ke sekolah tanpa mandi ya?” batinku. Sungguh ide yang buruk jangan sampai aku ke sekolah ga mandi, bisa-bisa temen-temen ku menjauhiku karena aku nggak mandi. Lama sekali aku berpikir hingga kakakku selesai mandi, ku pandang jam sudah menunjukkan pukul 06.35, namun ada suara memanggilku dari kamar mandi….

“Dek kamu mau bantuin kakak gak?” tanya kakakku dari dalam kamar mandi

“Ada apaan kak emangnya? Pusing aku kalo mau terlambat gini.” Jawabku yang malas malasan karena tau aku akan terlambat

“Ini dek handuk kakak kelupaan di jemuran tadi ga kebawa ke dalem, kamu bisa nggak ambilin handuk kakak?” tanya kakakku dengan nada manis dan kalemnya sejenak melupakan kalo dia tadi bete ke aku.

“Ihhhh males dah kak, udah bikin aku telat, eh sekarang masih disuruh suruh, males ah kak.” Kataku dengan malas nya tak beranjak dari sofa yang aku duduki.

“Yaelah dek kok ga mau sih ambilin handuk kakaknya yang cantik ini”

“Males kak jauh, ambil aja dah sendiri handuknya.”

“Ihh gimana ambil nya dek, kakak masih basah kaya gini loh”

“Yaa ga tau dah kak, kan kakak punya tangan punya kaki sendiri buat ngambil handuknya” ujarku menggodanya

“Astaga nih anak, gini amat dah ke kakak nya, tar kalo kakak keluar terus kamu ngeliat kakak ga pake apa-apa, keenakan tar kamunya dek hihihihi”

“Ihhh siapa juga yang keenakan liat kakak kaya gitu, aku mah ogah hahahah”

“Awas aja ya kamu dek udah jahatin kakak kaya gini!” jawabnya yang masih ada di dalam kamar mandi yang hening

Kali ini aku benar benar akan mengambilkan handuk dan berjalan ke jemuran di belakang kamar mandi untuk mengambil, namun tiba-tiba….

Cekleeek….. Dug,dug,dug,dug dengan nada cepat seperti orang berlari.

Ternyata kakakku beneran berlari mengambil handuk dengan tubuh tak tertutupi sehelai benang pun ke tempat jemuran di belakang kamar mandi, kami berdua pun bertemu aku yang berada disana mengambil handuknya dan kakakku yang berlari ke tempat jemuran handuk , dan ya bisa kalian bayangkan apa yang terjadi

“Kyyyyaaaaa adeeeeeek”

“Astagaaaa adek kakak kira kamu tadi beneran ga ngambilin handuk kakak” ujar kakakku sambil menutupi kedua susu dan mahkotanya

“Tutup mata kamu dek! Ga boleh kamu ngeliat, masih belom cukup umur kamu dek”

“Ehhh… ehhh, iya nih udah aku tutup mataku kak, maaf kak aku tadi bercanda doang loh suer dah” ujarku menutup mata sebagai pertanda adik yang baik hehehe dan menyerahkan handuk kepadanya. Dia pun langsung meraih dan memakainya.

“Halah kamu dek bercanda-bercanda mulu aja dari pagi, eh dek kamu tadi langsung tutup mata kan gak ngeliat apa-apa?” tanya kakakku dengan polosnya

“Ben..bener kok kak aku gak ngeliat apa-apa barusan” ucapku kaget dengan pertanyaannya

Namun begitu, sungguh tadi adalah momen 5 detikku yang amat berharga. Untuk pertama kalinya aku melihat kakakku bugil tanpa sehelai benangpun kedua bukit kembarnya sungguh indah dan besar, putih bersih proporsional sekali dengan tubuh kakakku yang tidak kurus-kurus amat ini, dilengkapi dengan puting yang masih pink khas wanita yang masih perawan pertanda kalau ia masih belum pernah dijamah oleh siapapun dan yang paling menarik adalah vaginanya yang bersih tanpa ada bulu sedikitpun bentuknya yang tembem itu sungguh membuatku ingin menuntaskannya di kamar mandi.

“Dek anggap aja ya itu tadi permintaan maaf kakak karena bikin kamu telat, sekarang kamu boleh buka mata” ucap kakakku dengan manisnya

“Udah pakai handuk kan kak? Aku buka nih ya mataku.”

“Udah pakai kok dek, dah buka aja gapapa”

“Eh kak diliatin gitu tiap hari juga gapapa kok hehehe”

“Yeeeee maunya enak di kamu doang mah itu” ujarnya sambil melengos pergi dari hadapanku

Aku yang masih terdiam menikmati momen indah itu hanya bisa menengguk ludah melihat bongkahan pantat yang bergoyang semakin menjauh itu.

“Dek ini udah 6.40 loh, katanya kamu tadi mau cepet-cepet, sono mandi gih!”ujarnya menyadarkanku dari aksi birahi mataku yang tak lepas dari pantatnya yang bergoyang-goyang

“Astagaaa udah jam segini ternyata.” Ucapku sambil panik dan masuk ke kamar mandi tak lupa juga handukku kubawa juga, takut kejadian seperti kakakku barusan ini, apa jadinya kalo kakakku melihat temanku yang dibawah ini, bisa bisa dia ketagihan, ups. Ternyata mandiku ini Cuma 5 menit langsung aku bergegas memakai seragam, kulihat kakakku udah berpakaian lengkap dan rapi ala pegawai bank.

“Dek yuk bareng kakak aja, kasian juga liat kamu yang panik rekornya mau terpecahkan hihihihi”

“Nah pucuk dicinta ulam pun tiba, gitu dong kak mau nebengin, baik banget deh kakakku yang satu ini, cantik pula luar dalam, ehh keceplosan” ucapku panik karena kebodohanku keceplosan takut kalau kakakku marah lagi bisa-bisa gajadi nebengin aku ke sekolah.

“Apaan sih dek, ayo dah berangkat, tar kamu terlambat beneran nih.” Kata kakakku sambil senyum manis mengembang di wajahnya.

Perjalanan kami ternyata cukup cepat juga, hanya butuh waktu 13 menit dan aku datang tepat 2 menit sebelum gerbang ku di tutup oleh satpam.

Sebelum keluar aku berpamitan kepada kakakku “Terima kasih ya kak, hati hati nanti ke kantor nya, jangan ngebut!” sambil aku cium tangannya

“Siap adekku!”

Itulah kisah diriku dan kakakku yang saat ini hanya berdua di rumah, sementara ibuku sekarang ada dinas keluar kota mungkin besok lusa baru bisa pulang setelah ia menyelesaikan workshopnya, oh iyaa perkenalkan namaku adalah Arsyah Setiawan biasa dipanggil Arsyah ,aku adalah anak kelas 3 umurku 18 tahun dan saat ini aku bersekolah SMA favorit di Jakarta yang sebentar lagi akan menghadapi UN dan kakakku yang cantik dan seksi ini namanya Siska Tamara umurnya 25 tahun dia adalah seorang teller di bank milik negara yang terkenal dan kebetulan dia selalu menjadi pegawai teladan disana, karirnya di bank tersebut terus menanjak dengan pesat dalam beberapa bulan ini.

Hari ini sungguh membuatku senang dan bahagia, akibat ketidak sengajaan tadi pagi. Lucu juga sih kalo aku mengingatnya, kakak yang kutemui setiap hari di rumah selalu berpakaian lengkap eh gak tau nya tadi pagi dia polos tanpa sehelai benangpun, yah walaupun dia kalau dirumah sukanya pakai tanktop dan celana pendek ajasih. Tapi kali ini dia berbeda, benar benar bugil dihadapanku adik kandung nya sendiri. Cowok mana yang ga tahan kalau dihadapkan dengan tubuh molek dari kak Siska, aku aja yang adik nya langsung panas dingin rasanya. Tapi tadi aku nggak sempat melampiaskan sesuatu yang tertahan didiriku, ahh biarlah nanti saja sudah waktu pulang di rumah aku akan melampiaskannya. Lhoo ehh kok aku malah mikir ngaco sih, parah banget otakku ini, masa iya sih aku horny ke kakakku sendiri. Tapi mau gimana lagi ya namanya udah di ubun-ubun, bodo amat dah aku nanti bakalan melakukannya. Tersenyum senyum aku memikirkan kejadian hari ini, hingga….

Cepleek… dengan akurasi shot on goal yang mencapai 99% penghapus itu tepat mengenai baju dan celana ku, jadilah pakaianku saat ini ada noda hitam bekas penghapus papan tulis. Seluruh pandangan kelas tertuju kepadaku akibat lemparan itu. Ternyata Bu Nita yang selama ini kukenal guru yang ramah dan baik kini berubah menjadi pemarah hari ini.

“Arsyah kamu ngapain daritadi senyum senyum sendiri! Cepat maju ke depan dan kerjakan soal yang barusan ibu bahas!” Ucap beliau dengan nada yang marah, teman temanku pun hanya bisa tertunduk mendengar ucapannya, teman-teman sekelasku tiba-tiba membisu semua

“Mampus lu syah, bego juga sih udah tau lagi pelajaran malah ngelamun, bego bego bego!” batinku dalam hati dan aku hanya bisa terdiam seribu bahasa detik itu juga.

“Ayo cepet kerjakan soal barusan yang kita bahas ini, kalo kamu mendengarkan pasti bisa ngerjain ini!” ucap nya masih dengan nada marah, dan aku pun hanya bisa maju dengan pasrah saja

“Maaf bu saya tidak bisa” ucapku yang masih menghadap papan tulis dengan nada lirih dan panik

“Apa saya tidak dengar, kamu ngomong apa barusan?”

“Maaf bu saya tidak bisa mengerjakan soal ini, karena saya sedang tidak berkosentrasi mendengarkan” ucapku dengan lantang kali ini

“Nah inilah anak-anak pentingnya mendengarkan apa yang ibu sampaikan, kalau sudah seperti Arsyah begini gimana coba, mau ngerjain gabisa, mau nulis gabisa, mau nerangin apa juga gabisa, dan bla… bla…. bla…”

Bu Nita memarahiku didepan kelas dengan panjang kali lebar kali tinggi, pokoknya hari itu aku benar benar dibuatnya malu dihadapan teman-temanku, aku memang dikenal sebagai anak yang rajin dan pandai namun untuk urusan biologi seperti ini apalagi bab genetika, aku benar benar menyerah sudah tidak tau lagi aku bagaimana mencernanya untuk masuk ke otakku karena terlalu banyak dan rumit.

“Arsyah kamu sekarang cepat buat rangkuman dari bab genetika ini, kamu tulis dengan rapi, kumpulkan waktu jam pulang nanti di ruang guru, mengerti?”

“Mengerti bu.”

Aku lakukan saja apa yang diperintahkan Bu Nita suruh, daripada aku nanti mendapat nilai dibawah standar, bisa-bisa gagal aku mendapatkan jatah SNMPTN yang sudah ku persiapkan matang-matang sejak kelas 1 agar bisa masuk universitas idamanku tanpa bersusah payah untuk ujian lagi nantinya.

Ting tung “seluruh pelajaran hari ini telah selesai, sampai jumpa besok pagi dengan semangat belajar baru” tung ting.

Suara yang sungguh kunanti natikan, bukan aku saja sih tapi semua anak di sekolah ini, ya benar bel pulang sekolah. Aku pun bergegas menuju ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas hukumanku dari Bu Nita.

Tok tok tok…

“Permisi bu, mau mengumpulkan tugas ke meja nya bu nita, meja nya yang sebelah mana ya bu?” Tanya ku seperti orang yang baru pertama kali masuk ke ruang ini, tapi memang sih aku jarang sekali masuk ruang ini.

“Ohh meja bu nita ya, itu tuh yang ada di paling pojokkan, nah itu ada bu nita nya, ga tau dah itu lagi ngapain.” Ujar salah seorang guru yang sudah senior di SMA ku ini

“Terima kasih bu” langsung saja aku melangkah ke meja bu nita, and…. damnnnnn why is she so beatutiful, ternyata dia lagi selfie di meja kerjanya , ini gilasih guruku kenapa cantik banget kalo pas lagi kaya begini.

Bu Nita
Hidden Content:

Anda harus like agar dapat melihat konten ini.

Terlepas dari kejadian tadi di kelas, kali ini aku benar benar terpesona dengan paras cantik dari bu Nita. Sungguh bu Nita adalah orang tercantik ketiga setelah mama ku dan kak siska. Paras nya yang masih muda ini menggetarkan hatiku seakan diriku ini ingin sekali memacari nya, tapi jangan sampai lah nanti bisa jadi headline koran lampu merah dengan judul “seorang siswa nekat memacari guru nya karena tidak tahan akan kecantikannya”. Bisa heboh seisi sekolah kalau baca berita itu, astagaaa ngomong apalagi sih aku ini, inget syah Bu Nita ini gurumu!

“Permisi Bu Nita ini tugas yang ibu berikan tadi, sudah saya kerjakan dengan rapi dan sepenuh hati saya bu, dan saya juga minta maaf untuk tidak mengulangi kejadian tadi bu, saya sudah kapok bu.” Ucapku memelas kepada Bu Nita agar ia mau memaafkan kelakuanku di kelas tadi.

“Ohh arsyah rupanya, sini taruh di tumpukan ini aja.” Dengan lembut Bu Nita menurunkan tumpukan-tumpukan kertas yang ada dihadapannya, segera aku pun meletakannya di tumpukan itu.

“Tentang yang tadi, ibu juga minta maaf ya syah, ga seharusnya ibu memarahimu secara keterlaluan didepan kelas tadi, pasti kamu malu ya tadi?” Tanya bu dengan nada lemah lembut seperti alunan melody yang indah ditelingaku.

“Nggak malu kok bu, memang sudah sewajarnya saya tadi dimarahin, memang saya yang salah bu karena melamun tadi.”

“Hmmm begitu ya, tapi jujur ya syah, kamu melamun apaan sih tadi kok saya lihat kamu sampe senyum-senyum sendiri? ” tanya Bu Nita dengan wajah yang curiga

“Ehh anu bu.. itu.. anuu…” kebingungan aku menjawab, sial aku harus jawab apa ini ya.

“Anuu apaan sih, yang jelas Arsyah kalo ngomong, kamu itu cowo!” Potong Bu Nita dengan nada yang menggoda sekali.

“Itu bu, tadi saya lagi mikirin, gimana nanti kalo saya masuk ke Universitas X bu hehehe.” Jawabku dengan sekedarnya untuk meyakinkan Bu Nita.

“Ohh itu ternyata, kirain kamu lagi mikirin……” Ucap Bu Nita dengan kata-kata yang tidak selesai itu.

“Hahahaha ga jadi deh syah, eh iya ngomong-ngomong kamu nanti mau masuk jurusan apa syah?”

“Saya sih pengennya masuk fakultas kedokteran bu, itu udah cita-cita saya sejak kecil dan juga dulu almarhum ayah juga berpesan kalau sebaiknya aku jadi dokter juga seperti beliau bu” Jawabku dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.

Memang itulah cita-citaku sejak dulu dan aku juga terinspirasi dengan pekerjaan ayahku dulu sebagai dokter. Menurutku, dokter adalah seseorang yang berjiwa mulia, dia mendedikasikan dirinya demi orang lain. Beban yang ditanggung juga sangat besar, jika seseorang yang ditolongnya itu tidak berhasil atau dengan kata lain tidak sembuh, dia akan dicaci. Ya begitulah kehidupan seorang dokter, namun aku sangat tertarik sekali untuk menggelutinya.

“Wahhhh hebat kamu punya keinginan jadi dokter, kalau kamu memang berniat untuk masuk kedokteran kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh syah, karena masuk ke fakultas itu tidak mudah syah dan juga nilai nya juga harus tinggi di bidang biologi nya.” Ujar Bu Nita yang mengingatkanku akan nilaiku dalam pelajaran biologi yang tergolong dibawah rata-rata daripada nilai pelajaran yang lain, memang susah pelajaran yang satu ini di otakku.

“Iya bu, saya pasti akan belajar dengan sungguh-sungguh lagi dan memperbaiki nilai saya di pelajaran biologi”

“Ohiya syah, lihat dulu ini nilaimu biologi untuk semester ini, nilaimu masih dibawa rata-rata ini, saya takut kalau kamu nggak memperbaiki ini kamu bakalan nggak bisa masuk kedokteran.”Sambil menyodorkan daftar nilai kepadaku, benar saja nilai ku masih dibawah rata-rata, bingung sekali diriku ini memikirkan cara untuk memperbaiki nilai ku ini.

“Nilai saya memang dibawah rata-rata ya bu, bagaimana ya bu caranya saya memperbaiki ini, saya takut kalau ga bisa masuk kedokteran bu, saya takut sekali bu.” Ucapku sambil panik bingung memikirkan caranya.

“Sudah kamu jangan bingung, begini saja kamu saya kasih tugas pada bab yang nilainya kurang, kamu kerjakan dengan benar terus kumpulkan, saya kasih kamu sampai hari minggu yaa.”

Bak kejatuhan durian runtuh, kata-kata Bu Nita tadi seperti pelita yang menerangi jalanku menuju kedokteran sungguh aku sangat beruntung sudah ditolong oleh Bu Nita kali ini.

“Baik bu, saya akan mengerjakan tugasnya dan mengumpulkannya tepat waktu, terima kasih bu sudah membantu saya, sudah bingung saya memikirkan caranya.” Jawabku dengan penuh semangat dan mata yang berbinar binar

“Hihihihihi iya syah iya, sama-sama, ibu juga kasian ngeliat kamu kalau sampai nggak bisa memenuhi permintaan ayahmu. Ngomong ngomong, kamu kumpulin tugas saya di kosan saya ya, kamu sudah tau kan kos saya?”

“Saya belum tau kosnya ibu, kan saya belum pernah kesana bu.”

“Oh iyaa saya lupa, nih kos saya ada di ……” Ucap beliau sambil menggambarkan peta di kertas, tetapi Bu Nita menjelaskannya bikin aku pusing, bingung aku dibikinnya dengan peta nya.

“Bingung ya syah dengan penjelasan saya tentang ini?”

“Hehehe iya bu, saya bingung. Emmmm gini aja deh bu saya minta id Line nya ibu aja, nanti ibu share loc aja kosan ibu via Line, lebih praktis kan bu.” Ucapku dengan entengnya aku meminta id Line Bu Nita berharap untuk dikasih.

“Ohh iya ya, nih id Line saya, di add aja dulu syah, nanti saya share loc ya pas udah di kos saya.” Jawab Bu Nita sambil memperlihatkan id Line di hp nya. Sungguh kejadian ini tak terduga, dapet juga aku kontak Bu Nita guru tercantik di SMA ku ini.

“Sudah saya add bu, terima kasih ya bu atas bantuannya, kalau boleh saya pulang dulu bu, takut kesorean.”

“Iya syah silahkan duluan saya bentar lagi juga pulang ini.”Aku pun menyalaminya dan langsung melenggang keluar ruang guru dan langsung pulang. Baru ingat aku kalau mobilnya dibawa kak Siska. Terpaksa deh aku harus jalan kaki dan naik angkot pulang ke rumah.

Perjalanan dari sekolah ke rumahku membutuhkan waktu 30 menit karena jalanan yang macet. Setelah 30 menit perjalanan sampailah aku di rumahku, capek juga ya ternyata jalan kaki dan naik angkot, aku pun masuk kedalam rumah, kulihat masih belum ada mobil Pajero ku pertanda kakak masih belum pulang. Akupun langsung menuju ke dapur untuk minum air dingin dari kulkas, sungguh udara Jakarta memaksaku untuk meminum ini. Tak lupa aku mengganti seragamku dan setelah kulihat aku baru ingat kalau masih ada bekas penghapus lemparan bu guru cantik tadi.

“Astagaaa, harus nyuci nih malem ini, ahh nanti aja dah habis maghrib aku nyuci nya, sekarang Mobail Lejen dulu dah hahahahaha.”

iiin tiin…

“Dek bukain gerbangnya.” Sayup-sayup terdengar suara kakakku yang baru datang diluar gerbang, menungguku untuk dibukakan gerbang.

“Astagaaaa baru juga ini masuk map, udah keganggu aja sama si makhluk cantik itu, bodo amat dah ini udah nanggung, biar nunggu diluar dulu aja dah dia.” Aku bermain sambil menggerutu karena merasa terganggu dengan kedatangannya yang tidak tepat momennya.

Tiiin tiin tiiin… semakin menjadi aja kakakku mengklakson mobilnya agar aku cepat keluar, tapi aku tetap fokus kepada game ku kali ini karena ini pertarungan hidup mati untuk mempertahankan rank ku.

“Deeeek kamu ngapain sih didalem kok gak dibukain pintu sih kakakmu ini!” Teriaknya dengan nada kesal.

“Arsyaaaah kemana sih kamu, kakak tau kamu ada didalem, cepet bukain gerbangnya!”

Jeglek.. akhirnya terdengar suara pintu mobil ditutup, namun tak lama kemudian….

Tung ting tung ting tung, yaaelaaaahhhhh siaal kok malah ditelpon sih sama kak siska. Ini adalah pertanda aku harus membukakan gerbangnya, jika tidak bisa-bisa dia marah beneran kali ini.

“Hmmmm ada ap- …”

“Ehhh dek cepet bukain pintunya gak, kalo gak dibukain kakak gak bakalan bikinin kamu makan malam!”

Belum selesai kujawab, kak siska udah keburu nyerocos aja dengan bawelnya. Tak mau diceramahi lebih panjang, langsung saja ku buka gerbang depan rumahku. Yap benar saja kak siska mengomeliku dari dalam kemudi nya

“Adek, kamu ini kalo dipanggilin nyaut dong, kesel nih kena macet tadi dan bla.. bla.. bla..” masih banyak lagi kebawelannya, namun aku hanya mengiyakan dan pergi ke dalam rumah.

Kak siska masuk kedalam rumah, terlihat sekali dari raut wajahnya yang nampak capek. Tapi aku yang duduk di sofa ini hanya bisa menahan ludah saja, yang kulihat saat ini dia sangat cantik dan menawan menggunakan kemeja nya yang dipakai untuk kerja, ditambah lagi rok nya yang ketat hingga menampakkan lekuk pinggulnya. And damnnnn, tepat di dadanya aku sangat terfokus sekali. Bagaimana tidak,kulihat kedua kancing itu tak mampu untuk menutupi kedua bukit kembar kak siska yang besar itu, seakan-akan mereka meronta ronta meminta dibebaskan. Ditambah lagi kacamata berlensa normal itu mampu menambah keseksian kakakku, ohh tuhan inikah arti dari nikmat mana lagi yang engkau dustakan. Sungguh kalau aku dibolehkan, aku bakalan onani didepan kakakku, memuntahkan spermaku ke baju dan roknya, sungguh keinginan yang sangat menarik untuk direalisasikan. Kapan ya aku bisa memejui kakakku ini? membayangkannya saja adikku ini sudah menggeliat dibawah sana. Ohh kakak kenapa engkau sangat indah dan cantik sekali.

“Dek, kakak kasih tau ya…” Lamunan kemesumanku pada tubuhnya pun dibuyarkan oleh kak siska.

“Capek tau gak sih dek pantat sama kaki kakak daritadi nyupir kena macet, rasanya pegel banget, ehh di rumah sekarang kamunya malah bikin tambah capek aja.”

“Hehehe maaf ya kak, aku ketiduran tadi.” Ucapku berbohong kepadanya agar aku tak kena kebawelannya lebih lanjut, bisa-bisa pecah telingaku kalo kakakku ini ngomelin aku terus.

“Ohh tidur rupanya, kirain kamu ngebohongin kakak ga bukain pintu gara-gara lagi maen.”

“Ihh ya nggak lah kak, ga pernah dah aku ngebohongin kakak.”

“Yaudah deh kalau gitu dek, kakak mau ganti pakaian dulu, gerah kalo pake baju ini terus.”Ujarnya kepadaku, dan dia pun melenggang pergi ke kamarnya berjalan perlahan bak model yang berjalan di catwalk, aku hanya bisa memandanginya saja.

“Ahh kak siskaaa, kenapa kamu bisa seksi sekali, mama dulu gimana cara bikinnya biar jadi kaya gini yak?” Batinku dalam hati menanyakan misteri cara memproduksi seorang wanita yang sempurna seperti kak siska.

Matahari pun sudah berganti rembulan, tak lupa aku mandi sore agar tubuh ini tetep segar dan kuat jika disuruh kak siska untuk memuaskannya, ehhhh salah, maksudku agar kuat menghadapi panasnya ibukota. Di kamar, aku mengumpulkan baju dan seragamku yang kotor terkena jackpot siang ini di sekolah, sesuai janji ku tadi sore, aku harus mencuci seragamku malam ini.

“Detergen udah, softener udah, ember udah, sip dah waktunya untuk mengucek-ngucek baju.” Ujarku sambil masuk ke kamar mandi dan melakukan pemanasan sebelum mengucek-ngucek baju ku, tak perlu kututup pintu kamar mandi agar kakakku tau kalau adiknya ini terlihat mandiri dengan mencuci baju sendiri.

“Ehh adek, kok tumben rajin amat dah malem-malem gini nyuci baju.” Ucapnya kepadaku, disela-sela mencuci, kakakku tiba-tiba berjalan ke dapur yang otomatis melewati kamar mandi, ohhh shit dia sekarang hanya pakai tanktop dan celana pendek favoritnya ketika ia dirumah.

“Iya dong , kan aku emang aku rajin kak, ini nih aku lagi nyuci seragamku yang kotor.”

“Lah kok kotor dek? Kan kemaren kakak udah nyuciin tuh seragammu sampai bersih.” Tanya kakakku dengan kecurigaan

“Ehhh iya ini kena tendangan bola yang basah tadi kak pas waktu aku main sepak bola hehehe” ucapku berbohong kepadanya agar ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi di sekolah, jika ia tau kebodohanku tadi bakal dihabisi pula aku sekarang olehnya.

“Ohh karena bola ya ternyata, eh dek sebentar ya tunggu dulu…” Ucap kakakku dengan memberikan isyarat untuk berhenti dan ia kini pergi ke kamarnya entah sedang apa. Aku hanya terdiam sekarang, dibuatnya bertanya-tanya apa yang akan kak siska lakukan sekarang. Kak siska kembali ke depan kamar mandi, sambil menyodorkan sesuatu dan aku sangat kaget dengan barang itu.

“Dek, nitip ini dong, ditaruh di ember aja ya, jangan dicuciin, biar kakak aja yang nyuci besok pagi, tar kalo kamu yang nyuci bisa rusak ini.”

“Ohh iya kak, si.. siap.” Ucapku sambil meraihnya, tak tau aku harus berbicara apa kali ini, karena kak siska memberikan dalamannya, ya dalamannya. Kini kubawa sebuah celana dalam krem dan bh berenda krem kakakku, pasrah saja aku disuruhnya dan langsung kutaruh di ember sebelahku.

“Makasih ya dek, dah lanjutin sana nyuci nya, kakak mau masakin buat makan malam, kamu mau nya makan apa dek?”

“Tumis tempe sama omelet aja deh kak yang simpel.”

“Oke siap dek, ditunggu ya kakak bakal bikin yang enak buat kamu.” Ucapnya sambil mengerlingkan matanya kepadaku, tak kuat aku melihatnya lama-lama, takut khilaf hahahaha.

Kak siska kini meninggalkanku berjalan menuju dapur dan terdengar suara orang memotong-motong pertanda kak siska sedang memasak makan malam. Aku pun melanjutkan kegiatan mencuci ku berharap ini cepat selesai dan aku bisa makan malam, namun ada sesuatu yang cukup menggangguku. Ya benar, dalaman kak siska ini bikin aku tidak fokus mencuci. Sebisa mungkin aku tetap mencuci, tapi tetap saja aku tidak fokus dan mencuri-curi pandang kearah dalaman kak siska yang terlihat pasrah tergeletak di ember. Rasa penasaran ku perlahan-lahan memuncak, ingin sekali aku menciuminya,sekedar ingin tau seperti apa aroma tubuh dari kak siska yang menempel di bh dan celana dalamnya. Aku bimbang antara ingin menciuminya atau tidak melakukannya karena takut sewaktu-waktu kak siska berjalan melewati kamar mandi. Berpikir keras aku bagaimana caranya agar tidak ketahuan oleh kakakku.

Memang sialan rayuan nafsu ini, akhirnya aku memiliki ide untuk memuaskan rasa penasaranku. Diam-diam aku melihat kakakku yang ada di dapur, memastikannya kalau ia masih lama memasakknya. Benar saja, ternyata masih lama sesuai perkiraanku, karena kini ia masih proses potong-memotong. Segera saja aku masuk ke kamar mandi lagi, dan menutup pintunya, menghidupkan kran air, sudah kebiasaanku kalau kran air dihidupkan tandanya aku lagi BAB. Namun kali ini berbeda BAB nya berbeda, karena sekarang ini aku langsung menciumi celana dalam kakakku tepat di bagian vaginanya.

“Astagaaa, harum sekali celanamu kakkkk.” Ucapku sambil terus menciuminya, kuhirup kuat-kuat aroma dari bagian sensitif kewanitaannya itu, sungguh wangi sekali aroma itu. “Kak, arsyah gak kuat nahan nih, boleh ya arsyah ngeluarin peju di celana dalam kakak.” Racau ku sambil mengeluarkan adikku yang sudah berdiri tegak siap untuk berperang. Perlahan kukocok-kocok naik turun sambil ku tutupkan celana dalam kakakku ini di seluruh batang adikku ini, sejenak aku melupakan mangsa yang satunya. “Ahh sial kelupaan kalo ini juga dipakai kakakku tadi.” Aku mengambil bh kakakku, dan kubaca tulisannya 36B, wah pantes aja gede. Tak luput dari hidungku, kuciumi juga setiap inci dari bh kakakku ini. Aku tergila-gila sekali dengan bh ini, kuciumi area yang kuprediksi tempat puting kak siska, yap diujung cup bh bagian dalam itu aku menghirup aromanya dengan sangat kuat. Aromanya membuatku semakin tak dapat mengendalikan lagi nafsuku. Bh kakakku memiliki bau keringat dari tubuhnya, meskipun keringat namun ia tidak kecut sama sekali, malahan ini wangi, wangi dari payudaranya. Celana dalamnya kupasang dan kupakai onani di adikku, sementar bh nya kututupkan dihidungku untuk agar dapat kurasakan wangi payaudara kak siska. Sejenak aku terbang tinggi dalam balutan nafsu ku kepada kak siska adn melupakan statusnya sebagai kakak kandungku, yang ada dipikiranku saat ini adalah aku harus puas!

“Ahhh kak wangi banget sih ini, arsyah kan jadi ngaceng berat kak.”

Clokkk… clokkk… clokkk… begitulah suara yang kutimbulkan akibat nafsuku sendiri kepada kak siska, beberapa saat kemudian rasa yang kutunggu-tunggu itu pun muncul. Ya, sebuah rasa ingin memuntah kan isi kantung ku.

“Kak aku keluarin di celana dalam kakak yaa, arsyah sudah gak kuat lagi ini.” Racau ku menahan rasa enak yang tak dapat lagi kubendung.

“Iya dek keluarin aja semua nya disitu, kakak bakal nyuciin kok kalo kena peju mu hihihihi.” Bagaimana jadinya jika kak siska berkata seperti itu saat ini, ahhh membayangkannya saja sudah membuatku tidak kuat untuk mengeluarkan calon-calon penerusku.

Kuhirup kuat-kuat bh kak siska dan….

“Ahhh siskaaa terima iniii”

Croott… Croott… Crott…

Entah berapa kali aku terhenyak memancarkan aliran spermaku. Sungguh luar biasa jumlahnya, tak pernah aku beronani dengan seenak ini. Celana dalam kak siska sampai basah kuyup dibagian vagina nya. Aku yang ngos-ngosan hanya bisa tersenyum bahagia menyaksikannya, senang sekali rasanya bisa menumpahkannya di celana dalam kakakku sendiri.

“Fiuhhhh, nikmat sekali, terima kasih ya kak, arsyah udah dikasih kenikmatan ini, besok-besok arsyah akan rajin mencoret-coret celana dalam kakak dengan peju arsyah.” Ucapku bahagia karena mendapat bahan baru yang sangat berkualitas daripada apa yang diperlihatkan artis kesayanganku si MILF Eva Notty.

Puas dengan apa yang kulakukan dengan dalaman kak siska, akupun meletakkannya kembali kedalam ember. Namun aku baru tersadar, kalau celana dalam ini pasti tidak akan kering cepat dan kak siska tadi berniat untuk mencuci nya besok. Bisa gawat nih kalau kakak menemukan celana dalamnya basah dan lengket karena ulahku ini.

“Naaahhhh aku punya ide nih….” Aku seperti mendapat sebuah pencerahan, kali ini mataku tertuju pada bh kakak. Kuambil celana dalam yang penuh belepotan spermaku itu, lalu ku tempelkan pada kedua cup bh kakak.

“Nah kalo begini kan bisa kering cepet nih, sekalian juga biar adil, masa Cuma cd nya aja yang kena peju ku, bh nya juga dong hahahahaha” Batinku dalam hati dengan kegirangan. Kuletakkan kembali bh dan cd kak siska, dan berharap agar besok cepat kering waktu kakak mencuci. Besok pagi ketika mencuci tangan kak siska yang putih dan halus itu bakal megang cd dan bh yang udah aku pejuin, semoga saja dia juga menghirup aroma dari spermaku ini. Membayangkan kejadian besok pagi membuantuk tinggi lagi, namun aku segera menepisnya. Kegiatan mencuci dan BAB bohonganku pun telah usai, kini saatnya menjemur.

Capek juga ternyata nyuci pakai tangan, sekarang waktunya makan malam dan aku harus mengecek kak siska udah selesai masak apa belum, tapi mencium bau ini sepertinya bentar lagi udah selesai nih, cek aja lah ke dapur.

“Kak udah selesai apa belum nih masaknya? Laper nih aku kak.”

“Udah dek, sesuai permintaanmu tadi ya tumis tempe sama omelet, bentar ya kakak pindahin ke piring dulu, kamu tungguin aja ya di meja makan.” Ucapnya sambil mengambil piring dan membawanya ke meja makan.

“Uhhhh baunya enak nih kak, udah gak sabar aku mau makan buatannya kakak.” Aku langsung mengambil nasi dan masakan kakak dan langsung akan menyantapnya, namun kakak menghentikanku.

“Adek tunggu dulu, berdoa dulu, jangan asal makan kamu!”

“Ehh iya lupa kak, udah kelaperan sih hehehehe”

Kami berdua akhirnya makan dengan nikmat malam itu, memang tangan handal kakak ini mampu menciptakan masakan yang rasanya hampir sama dengan masakan mama. Entah kapan kakakku ini belajar dari mama tentang cara memasak yang enak.

“Ahhh kak enak sekali ini, lain kali masakin Arsyah lagi ya, bakal betah nih makan dirumah kalo kakak yang masakin.”

“Siapa dulu dong yang masak, kak siska gitu loh jago sekarang masak nya.” Ucap nya sambil menunjuk-nujuk dadanya.

“Iyaaa kakakku yang cantik, percaya deh kalo sekarang udah jago masaknya.” Jawabku sambil melenggang pergi dengan membawa piring kotorku.

“Ehh dek taruh aja ya piringmu di wastafel, nanti kakak aja yang nyuci piringnya sekalian sama ini semua.”

“Makasih ya kak, baik banget deh kakakku yang satu ini, cantik pula hehehehe.” Setelah menaruh piring, aku langsung ke meja belajarku mengerjakan tugas dari Bu Nita tadi. Aku mengerjakan sekarang agar besok-besok tidak ada beban. Memang prinsipku adalah untuk tidak menunda-nunda sebuah pekerjan agar tidak menumpuk dikemudian hari. Ditengah-tengah aku mengerjakan, kakakku ternyata menelpon mama. Samar-samar aku menguping, sepertinya kakakku menanyakan kapan mama akan pulang. Kalau mama pulang, wah semakin betah aja aku mengurung di rumah ini. Karena penasaran aku menanyakannya kepada kakak.

“Kapan kak mama pulang? Udah kangen nih aku.”

“Tadi sih mama bilangnya pulang hari jumat malam dek dan kita disuruh jemput di bandara nanti, kamu mau kan nemenin kakak dek?”

“Oke siap, aku bakalan kosongin jadwal keluar untuk hari jumat kak.” Ucapku kegirangan mendengar apa yang kak siska beritahukan.

“Udah ya dek, kakak mau istirahat dulu, capek seharian ini, kalau kamu mau maen ke kamar kakak masuk aja ya, nggak kakak kunci kok hihihihi.”

Waduh, apakah ini sebuah ajakan untuk nakalin kakak nih, bimbang aku dibuatnnya memikirkan kata-kata yang meluncur dari mulut manisnya itu. Eh tapi jangan dah untuk malam ini, kak siska kelihatan capek banget, biarkan dia beristirahat malam ini.

“Ehh iyadeh kalo gitu, Arsyah juga mau ngerjain tugas terus tidur kak, gampang dah kalo masalah nanti ke kamar kakak hehehehe.” Tawaku yang penuh dengan kemesuman.

“Selamat malam kakak.”

Hari telah berganti dan sejuknya hawa di pagi hari menyambut setiap insan yang akan memulai kegiatannya. Termasuk aku juga yang kini telah bangun lebih pagi dari kemarin, entahlah kenapa kemarin aku merasakan ngantuk sekali hingga aku harus dibangunin kak siska karena kesiangan. Namun, pagi ini aku bisa bangun sendiri, karena terbangun oleh sesuatu dan samar-samar aku mendengar sesuatu itu.

“Keclek.. keclek.. keclek..”

“Suaranya kok serem ya, mana masih pagi banget pula ini.” Kataku dalam hati yang cemas mendengar suara itu.

“Keclek.. keclek.. keclek..” suara itu muncul lagi dan kini tempo nya makin cepat.

“Wah harus ku cek dulu nih suara apaan, takutnya maling masuk rumah.” Bergegas diriku langsung melangkah keluar kamarku. Perlahan-lahan kubuka pintu kamarku, melongoklah kepalaku melihat sekeliling luar kamarku yang sudah terang dengan cahaya lampu.

“Aneh, padahal tadi malam aku ingat udah matiin semua lampu di rumah.” Gumamku dalam hati berpikir dengan keras tentang apa yang terjadi. Aku baru teringat akan sesuatu, kemudian aku memastikannya dengan melihat pintu kamar mandi terbuka dan lampu nya menyala.

“Oh iya kan kemarin kak siska bilang mau nyuci pagi ini, pantes ada suara kaya gitu, kirain maling.”

“Ehh tapi, kerjain dulu ahh daripada nganggur gatau mau ngapain pagi-pagi kaya gini hahahaha.” Tawaku dengan penuh kegembiraan karena sebentar lagi akan kubuat kaget kakakku. Segera saja aku menuju kamar mandi dengan mengendap-endap. Kuintip kak siska hanya berbalut tanktop nya yang ia pakai tadi malam, sambil berjongkok ia mengucek-ngucek. Kuperhatikan dari luar kamar mandi tubuh kakakku yang molek dan aku pernah mendengar kata orang , bahwa sunset di gunung waktu pagi hari itu sangat indah. Tapi ini beda, nggak ada sunset nya, yang ada Cuma gunung kakakku aja di pagi hari.

“Ahh sial pagi-pagi udah sarapan susu aja nih gue.” Ucapku menahan nafsu agar adikku tidak terbangun kali ini, karena aku akan mengagetkan kak siska.

1… 2… 3… “Buaaaaaaaa….” Teriakku sekencang-kencangnya pada kakakku. Sukses lagi kali ini ngagetin kak siska.

“Kyyaaaaaa..” Sontak kak siska kaget dan melemparkan gayung penuh air ke arahku

Bresssss… suara air membasahiku di pagi ini. Sial, basah dah ini baju ku.

“Adek ngapain sih kamu pake ngagetin kakak segala, rese tau ga dari kemaren kamu kagetin mulu!”

“Niatnya biar kakak senam jantung hahahaha.”

“Tapi ini kok diguyang sih kak, jadi basah nih bajuku.” Dengan wajah kesal yang kuperlihatkan kepada kakakku.

“Ihhh salah sendiri kamu ngagetin kakak, udah tau kakak ini orangnya kagetan malah digituin mulu, yaudah jadinya reflek kakak siram kamu hihihihi.”

“Terus gimana nih, masa iya aku nyuci lagi hari ini padahal baru tadi malem aku nyuci banyak.” Masih tetap aku memperlihatkan wajah kesal pada kakakku.

“Hmmmm.. yaaah gimana lagi dek, udah tinggal nyuci aja sih nanti dek hihihihi.”

“Ahhh males kak, capek aku, mending kakak aja yang nyuciin sekalian kan ini lagi nyuci.” Anjir, kenapa gue ngomongnya gampang banget gitu yak, suruh nyuciin kakakku, mana mau dia.

“Emmm gitu ya dek, yaudah deh sini pakaianmu, kakak cuciin, itung-itung beramal ke kaum teraniaya hahahah.” Ledek kak siska kepadaku, bener sih katanya kali ini.

“Asiiik, makasih kak udah mau nyuciin, baik deh kak siska.” Ujarku kepadanya sambil melangkah keluar kamar mandi.

“Ehhh ehhh mau kemana?” ucapnya sambil menahanku untuk tidak keluar kamar mandi.

“Mau keluar lah kak ke kamarku, mau lepas baju sama celana di kamar kak.”

“Ehhh jangan tar lantai nya basah, ngepel nanti kakak kalo lantai nya basah.”

“Yahh kak, masa iya aku lepas disini, malu lah aku kak.” Gila aja aku disuruh ngelepas disini, didepan kakakku, bisa-bisa gak kuat nahan nafsuku nih.

“Udah dekk, ngapain coba malu sama kakakkmu sendiri. Udah sini copot, biar cepet selesai nih nyucinya!” sambil dia mengucek-ucek bajunya sambil berjongkok, sementara aku yang berdiri di belakangnya hanya bisa memandangi kedua gunung kembar kak siska yang terhimpit oleh kakinya. DAMN! Itu tetek kak siska kenapa sih kak kok pagi-pagi gini udah nyiksa aku dan itu juga pantatnya aduh bisa nyeplak gitu sih. Gatau apa kalau adiknya disini berusaha menahan gejolak tapi itu sulit banget dan bakalan ga berhasil kalo dikasih pemandangan kaya gitu. Terpaksa saat itu adikku tegang sekali melihatnya.

“Iyadeh kak.” Sialan, kuturuti saja omongan kak siska kali ini. Karena, kalo nanti aku keluar memang lantai nya akan jadi basah dan kakakku bakalan ngepel. Yahh memang gaada pilihan lain nih. Perlahan kubuka baju ku yang basah lalu kuserahkan pada kak siska yang masih mencelup-celupkan bajunya di air bersih. Kemudian celana kolor Juventus ku kini kupelorotkan kebawah dan kulepas, kuberikan juga pada kak siska. Kini hanya tinggal celana dalamku saja yang tersisa dan aku malu sekali untuk melepasnya, kalau dilepas disini nanti kak siska bakal ngeliat adikku nih, mana udah tegang nih siap buat dikeluarkan lagi.

“Kak, celana dalam ku dibuka disini apa diluar aja kak?” tanyaku dengan penuh malu kepada kak siska yang fokus dengan cuciannya.

“Udah dek disini aja, udah nanggung juga tinggal itu doang.” Ucapnya yang kini melihat ke arahku, dan kulihat dari tatapannya sepertinya dia kaget dengan ukuran tubuh adikku.Perlahan kulepaskan celana dalamku sambil menahan malu dan menutupinya dengan tanganku, lalu kuberikan ke kakakku.

“Ehh dek itu….. kok lucu bentuknya hihihi” ucapnya yang lagi-lagi meledekku, tak ada hentinya kak siska meledekku.

“Ledek aja terus kak, ya emang gini sih bentuknya, gimana keren kan? hahahaha”

“Ihhh keren darimana coba, eh dek, ngomong-ngomong dulu ga segitu loh waktu kamu masih SMP mandi bareng kakak.”

“Iyalah kak itu kan waktu arsyah masih kecil, kan sekarang udah ‘gede’.” Ucapku dengan memberikan penekanan pada kata ‘gede’ yang menimbulkan kesan ambigu.

“Ohh syukur deh kalo punyamu udah berkembang dek hihihi.” Lagi-lagi aku diledek olehnya, akupun hanya tersenyum menanggapinya menahan rasa kesal.

“Terus.. terus… ledek aja lagi kak, daritadi diledekkin mulu aku.”

“Hihihi iyaa iyaa maapkan kakakmu ini, ehh dek tadi kakak kan nyuci daleman nih, tapi kok ada waktu nyuci rasanya ada yang keras gitu ya di kainnya, kamu tau gak dek itu kenapa?” tanyanya dengan penuh selidik dan curiga yang mengarah kepadaku.

DEG!!! “Mampus aku harus ngomong apanih ke kakak.” Panik aku dibuatnya, bingung memikirkan alasan yang masuk akal kepadanya.

“Heii adek, kok bengong , kakak nanya nih dek.” Semakin tak berkutik aku dibuatnya kali ini.

“Ehh anu kak, mungkin tadi ada tikus, terus tikus nya kencing disitu kak hehe.” Semoga alasanku kali ini bisa memuaskan rasa penasarannya.

“Iyaa kali ya dek, tikusnya gede banget kaya nya, udah berani nakal yah adekku sekarang hihihihi.” Ucapnya dengan penuh tawa . Sial, sepertinya kak siska sudah tau kalau aku udah mejuin dalemannya.

“Ehh iy.. iyaa kayanya kak, gatau juga sih seberapa gedenya.” Ucapku dengan wajah penuh malu gara-gara dicurigai kakakku seperti ini

“Lucu deh kamu dek kalo kaya gini, udah sana kamu balik ke kamar, kalo kelamaan disini bahaya nanti hihihihi.” Kerlingan mata dan tawanya seakan penuh makna kali ini.

“I… i.. iyaa kak, aku keluar sekarang.” Dengan langkah gontai aku keluar kamar mandi menuju tempat handuk untuk mengambil handukku dan melilitkannya.

Ahh kak siska juara banget kalo godain adiknya, belum pernah selama ini aku digoda sebegitu bernafsunya. Lebih baik aku sebentar lagi mandi, sambil nungguin kak siska selesai mending aku ke kamar dulu dah mau ngeluarin, ngeluarin buku dari tasku hahahaha…

Setelah kak siska selesai mencuci, akupun mandi karena matahari sudah nampak dan aku juga akan berangkat sekolah. Begitupula kak siska juga mandi dan berdandan karena akan berangkat bekerja. Tidak ada kejadian semenarik kemarin lagi, aku berharapnya sih ada haha. Setelah semua selesai aku dan kak siska berangkat, kali ini mobil aku yang bawa karena nanti sepulang sekolah aku langsung main futsal dengan teman-temanku.

“Kak mobilnya aku yang bawa ya hari ini, sekarang kakak aku anterin dulu ke bank.” Ucapku memecah keheningan dalam balutan lagu Attention nya Charlie Puth didalam mobil kami.

“Mau kamu pake kemana emangnya dek?”

“Nanti sore abis pulang sekolah ada futsal sih kak aku sama temen-temenku.”

“Ohh gitu ya dek, oke deh kamu bawa aja, tapi nanti jemput kakak ya jam 6, awas kalo sampek lupa!”

“Siap tuan putri.”

“Nah udah sampek nih kak.” Ucapku pada kak siska sambil mencium tangannya, seketika dia kaget kuperlakukan seperti itu

“Ihh pake cium tangan segala kamu dek, geli rasanya hihihi.” Tawa yang manis itu mengawali pagi ku yang indah kali ini

“Itu namanya berbakti ke yang lebih tua kak, udah ya kak nanti aku telat ini kalo ga berangkat sekarang.”

“Iya dek, hati-hati dan jangan ngebut!”

Sampai di sekolah ternyata sudah mepet jam masuk segera aku berlari memasuki sekolahku. Pelajaran hari ini sungguh membosankan karena hanya pengulangan materi dari yang dipelajari di kelas 1 dan 2, karena sebentar lagi mau UN dan pasti guru-guru akan mengulang materi yang pernah dipelajari dulu. Tidak fokus pikiranku mendengarkan apa yang diajarkan oleh guru didepan. Sepertinya teman-temanku juga pada malas mendengarnya, yang ada dipikiran mereka sekarang hanyalah futsal nanti sore sepertinya.

“Ahh ngapain ya, bosen nih gini mulu daritadi, mending chat kak siska aja coba.” Kukeluarkan hp ku dan kubuka line ku.

“Hai kak.”

“Ada apa dek?”

“Hehe, gapapa kak, lagi bosen aja dengerin pelajaran, kakak lagi apa?”

“Ini lagi istirahat dek, heh kamu konsen sana ke pelajaran!”

“Males nih kak, ga ada yang diajak ngomong disini”

“Emang kamu gaada temen disebelahmu, kok sampe chat kakak segala”

“Tidur dia kak jadi gaada temen, mending chat sama kakak haha”

“Dasar nih anak, kakak gabisa lamaloh”

“Iyaaa gapapa kak,

eh kak minta pap foto dong pengen liat nih sekarang lagi apa hehe”

“Ihh males dek, kan nanti juga ketemu”

“Yee beda kak kalo nanti, pap ya”

“Males ahh, tar aja di rumah, kakak kasih sesuatu.

Sekarang kakak udah selesai istirahatnya. Bye” ​

Waduh dikasih apaan nih sama kakak, semoga aja dikasih yang enak hehe. Memikirkan apa yang di chat barusan membuatku tidak sabar untuk pulang ke rumah mengira-ngira apa yang akan dikasih kak siska. Tak terasa jam pelajaran pun perakhir dan kami dengan senangnya berhamburan keluar kelas. Teman-temanku segera mengambil motor dan melaju tkp, begitu pula aku segera aku menuju mobilku, dan kupacu menuju arena futsal. Futsal kali ini adalah sparring melawan kelas sebelah dan aku menjadi kiper, memang itu adalah spesialisku, menjaga gawang agar tidak kebobolan. Menurutku kiper adalah bagian yang paling keren, karena mau tidak mau dia harus berhadapan 1-on-1 dengan striker lawan, jatuh bangun menerima tendangan yang super keras. Disamping itu aku juga seorang juventini yang sangat mengidolakan Buffon.

Satu jam berlalu dan sparring futsal pun berakhir, kemenangan diraih oleh kelasku dengan skor 4-1 dimana gol dari kelas sebelah didapatkan dari titik 12 pas, sial sekali aku tadi tidak bisa menangkisnya. Waktu menunjukkan jam 17.45 , aku segera berpamitan kepada teman-temanku dengan alasan mau jemput kakakku, mereka semua seperti antusias ketika mendengar kata ‘kakakku’ entah kenapa. Aku melaju menuju tempat kerja kak siska, ditengah perjalanan aku mendapat chat dari dia kalau aku harus menjemputnya di kaepci seberang bank nya. Kutemui kak siska di kaepci yang ternyata ia membawa ayam goreng untuk makan malam, segera kami bergegas pulang ke rumah.

Sesampainya dirumah kami bergegas mandi karena aku sudah tak tahan dengan keringatku bekas futsal tadi, yang pasti kami masih mandi sendiri-sendiri, tapi kalau kak siska ngajak sih gapapa, ehh. Usai mandi kami berdua makan ayam goreng kaepci yang dibeli kak siska tadi, Indah sekali malam ini ditemani kak siska berdua saja.

“Kak, aku numpang ngerjain tugas di kamar kakak ya.”

“Oke dek, habisin dulu makanmu itu.”

“Ehh kak, tadi katanya mau ngasih sesuatu, mana?” ujarku menagih janji dari kak siska, jangan sampai ia lupa.

“Ohh iya hampir aja lupa hihihi, tar aja dek habis kamu ngerjain tugas ya.”

“Siap kak!”

Kami pun selesai makan, dan aku langsung melenggang ke kamar kak siska untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yaitu mengarang cerita. Cerita kali ini mengisahkan seorang kakak dan adik yang berjuang melawan kerasnya ibukota agar terhindar dari pergaulan bebas. Ehh tapi kok mirip kisah hidupku ya, bodo amat dah yang penting selesai meskipun acak-acakan. Kulihat kakakku masuk kedalam kamar hanya menggunakan tanktop seksi dan celana pendek nya saja mirip kemarin tapi kali ini beda warna saja. Kak siska tiduran di kasurnya sambil memainkan hp nya, hal itu membuatku tidak nyaman, bukan aku, melainkan adikku. Bayangkan saja gunung segede itu diapit tangannya sambil tiduran, kaya serasa mau tumpah saja. Diam-diam aku mencuri pandang ke belahan dada kak siska. Perlahan-lahan kubetulkan posisi adikku dan ternyata kak siska memergokki dirku.

“Hayo kenapa kamu dek kok kayanya gelisah amat?” ucapnya yang secara tiba-tiba mengagetkanku

“Ohh, ini kak gapapa, lagi panas aja hehehe.”

“Apanya yang panas dek?” sambil mengerlingkan matanya ia menggodaku lagi kali ini.

“Anuu hawanya kak, diturunin lagi aja kak suhu AC nya hehe.”

Ctiiit… “Dah ini dah kakak turunin sesuai permintaanmu.”

Sepuluh menit kemudian aku telah selesai mengejakan ceritaku, kini aku berniat meminta apa yang sudah dijanjikan kak siska tadi

“Kak udah selesai nih, mana janji kakak yang tadi.”

“Iyaa adek sabar napaaa, jadi begini kakak bakal tanya dulu, tapi kamu jawab jujur ya!”

“Oke kak aku bakal jujur kok jawabnya.”

“Jadi gini dek, kamu kan udah gede, apa bener kamu yang onani pakai daleman kakak ?” tanyanya kepadaku, sontak saja aku kaget mendengarnya, bak disambar petir di malam bolong.

“Ehh.. ehh.. buk-kan kak, bukan aku kok.” Jawabku dengan nada takut, aku takut apabila kak siska marah besar kepadaku.

“Adeeeek, kan kakak udah bilang kalo kamu harus jawab jujur, atau ga bakal kakak kasih yang kakak janjiin tadi!” ucapnya kini semakin tegas dan akupun makin takut mendengarnya.

“Tapi janji ya kakak jangan marah.” Ucapku sambil menunduk malu

“Iya adekku Arsyah sayaaaaang.”

“Be… beneer kak itu Arsyah yang ngelakuin, tapi aku janji kak ga bakal ngulangin lagi kok.”

FIUH.. terdengar kak siska menghela nafas “Hmmmm bener berarti, emang kamu segitu penasarannya ya dek?”

“Ehhh… itu… iya kak emang penasaran aku, kaya apa bau nya, kakak ga marah kan?”

“Astagaa adek ternyata kamu penasaran banget ya, ga marah kok tenang aja.” Senang aku mendengar kata tidak marah itu

“Yaudah sekarang kamu tutup matamu, jangan dibuka sebelum kakak suruh, awas aja kalo dibuka!”

Wah mau ngapain lagi ini kak siska, kuturuti saja untuk menutup mata sesuai keinginannya. Tapi, pikiranku selalu mengarah ke arah yang negatif. Gimana kalo tiba-tiba kak siska memutilasi ku karena udah kurang ajar, gimana kalo kak siska mengusirku, dan blaa.. blaa… blaa… pikiran-pikiran negatif hinggap dipikiranku.

“Udah dek buka aja mata mu, tapi jangan kaget ya.” Ucapnya sambil menyudorkan sesuatu berwarna pink, aku kaget melihatnya karena itu adalah…

“Astagaaa, kakak, ini kan…” belum selesai aku berbicara sudah dipotong oleh kak siska

“Hihihi iya dek, itu celana dalam yang kakak pakai hari ini, untuk memenuhi rasa penasaranmu, kakak kasih itu sebagai hadiah yaa…”

DAMN! Lagi-lagi aku diberikan nikmat tuhan lagi.

“Oh iyaa dek, keluarin dulu aja dek itu, kasian kalo ditahan tahan, nanti bisa sakit kepala hihihi.” Godanya kepadaku yang kini semakin berani kakakku ini.

“Apanya yang dikeluarin?” tanyaku yang berpura-pura tidak tau, agar kak siska aja yang ngasih tau hahaha.

“Ihhh kamu ini bego apa bego beneran sih!” ujarnya kesal kepadaku dengan memasang wajah yang menggemaskan.

“Gatau kak aku kalo gak dikasih tau.”

“ITU, ONANI SANA, KALO GAMAU DIKASIH ENAK SINI KEMBALIIN DAH” ucapnya kini yang memuncak kesalnya karena aku godaiin terus. Gilasih kakakku yang biasanya kalem dan anggun bisa-bisanya ngomong seperti itu, semakin nafsu aja aku diginiin kak siska.

“Ehh iya kak.” Langsung saja kupelorotkan saja celanaku dan langsung keluar adikku mengacung tegak sekali dari sarang tempat tinggalnya.

“Ihh adekk, kok disini sih, maksud kakak ga disini adek!”

“Yahh kirain disini kak, udah terlanjur juga, yaudah deh aku di kamar mandi aja.” Ucapku pada kak siska sambil menaikkan celanaku.

“Yaudah gapapa disini aja dek, kasian juga kalo kamu ke kamar mandi, kejauhan hihihihi.”

“Asiiik, makasih kakak.” Segera saja ku kocok naik-turun adik kebanggaanku ini sambil kuhirup aroma celana dalam kak siska yang baru dipakainya itu. Gila! Baunya sungguh wangi, lebih wangi dari yang kemarin, apa gini ya bau vaginanya kak siska, bikin aku tergila gila aja nih. Bisa-bisa aku betah nih tinggal berdua selamanya sama kak siska kalo tiap hari diginiin terus.

Clokkk… clokkk… clokkk kumainkan tanganku naik turun dengan tangan kananku, tangan kiriku memegang celana dalam kak siska sambil kututupkan ke hidungku. Ahh sungguh nikmat onani kali ini, lebih enak dari kemarin.

“Enak ya dek kayanya sampe kamu merem melek gitu hihihi.” Tanyanya sambil melihatku dengan wajah yang senang dan senyum yang mengembang di bibirnya, tak dapat kugambarkan lagi kecantikan kak siska malam ini.

“Ii.. iyaa kak, enaaak banget ini, lebih enak dari yang kemarin.”

10 menit pun berlalu dan aku masih Clokkk… clokkk… clokkk

“Mau gak dek kalo kakak kasih kaya gitu tiap hari?” kali ini wajahnya yang sayu itu menatapku penuh makna.

“Maa.. maauu kak, ga bakal nolak aku, huuuh, huuh, huuuh.” Ucapku ngos ngosan menahan keenakan yang kurasakan kali ini.

“Oke deh dek, kakak bakal kasih kamu tiap hari celana dalam kakak hihihi.”

“Ahh iyaaa kak makkasiih ya kak.”

“Iyaa adek, eh tapi kok masih belum keluar sih dek, kasian kamu udah keringetan gitu“

“Ga.. gatauuu nih kak.”

“Kalo kakak bukain ini cepet keluarnya gak dek? Hihihihi” astaga, tetek kak siska dibuka didepanku, yah walaupun masih terbalut bh pink nya, tapi setidaknya terlihat besarnya gunung kembar kak siska didepan mataku sendiri.

“Ahhh kakak, pinter banget sih godain aku, enak banget iniii…”

“Kasian kamu dek gak keluar-keluar, ya jadinya kakak bantuin ini.”

Clokkk… clokkk… clokkk

“Akkhhhhhh kak siskaaaaaa” karena kurasa aku akan segera keluar, maka segera celana dalam kak siska kujadikan penadah didepan kontol ku.

Dan crooot croot crooot, banyak sekali yang keluar hingga terbang ke lantai kamar kak siska, cairan putih itu menutupi bagian depan celana dalam kak siska. Entah berapa banyak yang keluar dari kontolku ini, rasanya nikmat sekali onani kali ini karena ditemani kak siska dikamarnya.

“Astagaa adek, banyak banget itu, sampek ada yang dilantai nih.” Katanya sambil menunjukkan jarinya ke lantai.

“Huuuh.. huuuh.. huuuh.. ii..yaa kak, sumpah ini enak banget kak.” Ucapku yang masih ngos-ngosan gara-gara cumshot super ku kali ini.

“Aduuuh, nyuci bekas onanimu lagi nih besok berarti, hihihihi.”

Aku terdiam saja masih menikmati orgasme dahsyat ku barusan, kemudian ku naikkan celanaku setelah bersih dari tidak adanya sperma yang menetes.

“Udah dek, lap aja lantainya pake celana nya kakak, besok biar kakak cuci itu.”

“Ehhh okedeh kak.”

Ku bersihkan sampai bersih lantai kamar kak siska yang belepotan spermaku, setelah kurasa bersih, kemudian ku taruh celana dalam nya di tempat cucian dan aku kembali ke kamar kak siska.

“Ngapain lagi dek? Masih kurang ya?”

“Enggak kok, inii, ummm aku boleh gak tidur sama kak siska malam ini?”

“Hmmmm boleh gak yah? Tar kamu apa-apain kakak lagii, ga ah, ga mau, hihihihi.” Ucapnya dengan penuh tawa.

“Bolehin lah kak, kangen nih udah lama gak tidur bareng kita.” Aku merayu nya agar bisa tidur dikamarnya.

“Hmmmm gimana yaaaa…”

“Iyaa deh boleeeh, tapi ingat gaboleh macem-macem dek! Kunci dulu rumahnya ya jangan lupa”

“Siap tuan putri.” Aku langsung bergegas dengan semangat 45 mengunci gerbang dan pintu rumah, tak lupa aku mematikan lampu rumah, senang sekali rasanya bisa nakalin kak siska tipis-tipis kali ini.

“Sini dek disebelah kakak.” Ujarnya sambil menatakan bantal disampingnya. Akupun masuk ke kamarnya dan langsung berbaring disebelahnya. Tapi Arsyah kalo ga nakalin kak siska tipis-tipis, kupeluk dari belakang kakakku yang cantik ini, namun dia tidak protes. Ku naikkan lagi saja pelukanku sampai diantara perut dan payudaranya.

Kemudian ia membisikkan “Dek jangan macem-macem yah, hihihi.”

Tap, kumatikan alarm bersoundtrack Thunder milik Imagine Dragon. Ah masih jam 5 ini rupanya, alarmnya aja udah bangun, eh yang punya malah belum bangun, gimana sih kak siska ini. Karena tidurku sudah terganggu oleh alarm kak siska barusan, yah mau gak mau aku jadi yang bangun pertama di rumah ini.

“Hoaaeeem…” Samar-samar aku membuka mataku, terbangun juga aku akhirnya, kukucek perlahan-lahan sambil memperhatikan sekitar. Kuregangkan otot-ototku di bagian kaki dan tangan, kutarik kuat-kuat agar mereka merengang. Ku toleh ke sebelah kiri tubuhku, kulihat sesosok bidadari dengan wajah anggun dan polos masih tidur disisiku menghadap kearahku.

“Ahh kak siska, tidur aja masih tetep cantik, gak ada yang ngalahin dah cantiknya kakak.” Gumamku dalam hati sambil terus melihat lekat-lekat, kuperhatikan tiap inci wajah rupawannya, tak se-inci pun aku menemukan kecacatan. Kini ku geser perlahan-lahan posisiku sehingga mendekati wajahnya.

“Kak andai aja aku bukan adikmu, udah aku nikahin kali yak.” Ucapku lagi dalam hati, yang mana aku hanya bisa mengaguminya dari dekat saja. Sedekat kali ini , yaitu wajahku dan wajahnya bertemu dalam satu garis yang lurus.

Cupp…

“Makasih kak, udah baik ke aku selama ini.” Sebuah kecupan manis ku tujukan pada pipinya yang halus itu. Itu adalah kecupanku yang pertama kali pada pipi nya.

“Enak juga cium pipinya kak siska, jadi pengen nambah hahaha.” Celetukku dalam hati, nanggung juga sih pikirku kalau hanya pipi aja yang kucium. Kuperhatikan bibirnya yang seksi itu, sambil berpikir aku akan mengecupnya atau tidak.

“Gimana nih, cium gak ya, tar takutnya kalo pas nyium terus kak siska nya bangun kan bisa berabe nih.” Pikirku kembali dengan apa yang akan kulakukan sekarang, memang nekat sih kali ini. Tapi rasa penasaran sudah kepalang tanggung dan ku cium saja, bodo amat udah kepalang tanggung.

Cupp…

Bibir kami bertemu satu sama lain, kudiamkan lama bibirku ini sambil mendengarkan deru nafasnya yang masih beraturan, pertanda kalau kak siska masih nyenyak tidurnya. Ternyata begini ya rasanya nyium bibir cewek cantik, ga bisa digambarkan lagi. Seakan-akan mau pingsan aku rasanya karena terlalu seneng kaya begini. Ciuman di bibir itu adalah yang pertama bagiku, bagaimana tidak aku aja pacar gak punya, jadi kini bibir ku telah diambil keperjakaannya oleh kak siska.

Cukup lama aku melakukan ciuman pertama ku, asik juga rasa bibirnya kak siska. Karena sudah hampir jam 6 aku akhirnya menyudahi acara ciumanku dengan kak siska, kemudian aku keluar dari kamar kak siska. Segera saja aku ke kamar mandi dan dubasuh mukaku dengan air dingin, “Ahh segar sekali, eh tapi, ini bekas bibir kak siska kan jadi ilang, bego lu syah.” Umpatku dalam hati, menyesal aku membasuhnya.

POV kak siska

“Thunder feel the thunder..

Lightning and the thunder

Thunder feel the thun-..”

Sayup-sayup kudengar alarmku berbunyi, masih dengan mata yang sipit aku hendak mematikannya. Belum sampai aku mau beranjak dari tempat tidurku, ternyata arsyah sudah mematikannya. Ahh yasudahlah, aku malah berterima kasih kepadanya karena sudah mematikannya, jadi aku gak usah bangkit dari tempat tidurku.

Aku jadi semangat untuk melanjutkan tidurku kali ini dan tetap kupejamkan mataku. Setelah mematikan alarm, kini arsyah kembali ke tempat tidurku, kurasakan guncangan spring bed pertanda ia berbaring lagi di sebelahku. Namun aku tetaplah aku, meskipun berniat tidur lagi, tapi kalau sudah kebangun gini aku susah untuk terlelap kembali. Jadilah aku hanya bisa memejamkan mata saja.

Gsrek.. gsrekk..

“Nih anak ngapain lagi, kok kayanya dia geser jadi dekat aku.” Kurasakan spring bed ku bergoyang-goyang dan terdengar suara orang bergeser.

Adikku terdiam cukup lama, entah sedang melakukan apa dia yang pasti sekarang keadannya hening. “Awas aja kalo dia onani di kasurku!” Ucapku dalam hati, mencegah kejadian yang tak diinginkan. Perlahan-lahan ada gerakan seperti mendekat dan…

Cupp…

Sebuah ciuman hangat mendarat di pipiku, lucu sih rasanya dicium Arsyah. Udah lama juga aku ga dicium pipi oleh adikku ini, kangen juga rasanya kalo inget dulu waktu masih kecil. Kita sering maen bareng, sering mandi bareng, sering tidur bareng, semuanya serba bareng waktu dulu. Tapi sekarang, gara-gara waktu dan usia lah yang telah memisahkan batas-batas diantara kami. Kebiasaan yang waktu kecil sering kita lakukan sekarang jadi kita hentikan. Terdiam cukup lama aku mengenang kejadian masa lalu aku dan adikku. Begitu juga adikku, dia hening tanpa ada gerakan ataupun kata-kata, namun tiba-tiba…

Cupp…

Kaget aku merasakannya, kali ini bukan pipi yang dicium arsyah, namun bibirku yang menjadi sasarannya. Aku hanya bisa diam saja diperlakukan seperti itu oleh Arsyah adikku sendiri. Kubuka sedikit mataku dengan mengintip-intip melihat wajah adikku yang sangat dekat dengan wajahku. “Haruskah aku marah atau haruskah aku diam saja?” pertanyaan itu muncul di benakku saat ini, bingung aku dibuatnya. Jika aku sekarang terbangun dan memarahinya, pasti Arsyah langsung malu, kemudian hubungan kami sebagai adik-kakak pasti akan ada jarak. Hal seperti hubungan kami yang akan merenggang lah yang aku takutkan, jadi aku lebih memilih berdiam saja. Menikmati ciuman yang diberikan adikku, mungkin ini yang pertama dalam hidupnya, karena dapat kurasakan dia seperti grogi menciumku. “Dasar ABG kurang jam terbang hahahaha” ledekku dalam hati.

Cukup lama Arsyah menciumku, dan aku hanya bisa diam pasrah menerimanya. Akhirnya Arsyah mencukupkan ciumannya, sepertinya dia juga sudah capek dan bosan melakukannya. Samar-samar kudengar ia membisikkan sebuah kalimat yang membuatku kasihan “Terima kasih kak, ini baru pertama kalinya aku nyium cewek, dan teryata cewe nya itu kakak.” Kemudian ia pun keluar kamar ku dan sepertinya adikku ke kamar mandi.

“Ahh adikku udah berani juga ya sekarang.”

********************************

Setelah aku mencuci muka ku, langsung saja aku keluar rumah, melakukan pemanasan,. Yap aku ingin jogging pagi, sudah lama aku gak jogging keliling komplek. Sejenak kulihat-lihat komplek rumahku ini ternyata rame kalo pagi kaya begini. Kebanyakan mereka sedang olahraga juga sekedar jalan cepat atau jogging, olahraga pagi ini didominasi oleh orang dewasa, hanya aku pemuda yang berolahraga di pagi hari. Mataku tertuju pada kumpulan Mahmud yang sedang jogging, mereka berlari-lari kecil sambil membuat video yang kuyakini untuk diupload di instastory,”Dasar mamah muda sosialita.”Gumamku dalam hati, sambil melihat mereka berlari yang membuat harga susu naik turun.Kufokuskan kembali pada jogging ku, 3 kali aku berputar mengitari komplek perumahanku, yah bisa dihitung sih sekitar 3 km lah aku jogging pagi ini. Kusudahi acara jogging pagi ku kali ini, cukup lah untuk cuci mata pagi-pagi ngeliat mamah muda seger-seger hahaha.

Usai jogging aku kembali ke rumahku, kudapati kak siska sudah siap-siap untuk mandi. Aku berjalan perlahan-lahan melewatinya niatku menuju kamarku, aku takut jika ia menyadari kalau tadi pagi sudah kucuri ciuman di bibirnya.

“Pagi kak.” Kuberanikan diri untuk menyapanya agar tertutupi rasa grogi ku

“Ehh adek, cie rajin amat pagi-pagi udah jogging.” Ucapnya dengan senyum manis yang khas terlukis di wajahnya

“Iya nih kak, biar sehat dan seger hehehe.”

“Bagus-bagus, kapan-kapan kakak ajakin dong dek, kangen juga nih lama ga jogging, okee?” tukasnya sambil menutup pintu kamar mandi.

“Siap kak.” Fiuuuuh, ternyata kak siska tidak tau, dugaanku salah, kak siska tidak bertanya apa-apa kepadaku, untunglah.

Setelah kak siska mandi, aku langsung mengisi kamar mandi karena sudah tidak tahan dengan keringatku, kuguyurkan air dingin ke tubuhku, nikmat sekali. Cukup 10 menit aku mandi, langsung aku memakai seragam sekolahku, dan menyiapkan buku-buku pelajaran. Kulihat kak siska sedang menyiapkan sarapan, kali ini sarapan roti, ia mengoleskan nuttela diatas nya, lumayanlah buat ganjal perut. Kulihat jadwal pelajaranku hari ini, yaitu Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika.

“Wah ada biologi nih, ketemu bu Nita hari ini, harus jadi anak baik dulu hari ini.” ucapku gembira dalam hati karena nanti ada bu Nita yang mengisi biologi. Segera saja aku sarapan kemudian berangkat nebeng kak Siska. Tapi hari ini mobil dibawa kakakku karena ia pulang agak malaman gara-gara lembur. Aku iya-in saja, toh aku juga bisa naik angkot pulangnya nanti.

*Ting tung “Saatnya jam pelajaran pertama di mulai.” Tung ting *

Aku kemudian masuk kedalam kelasku setelah mendengar bel tanda masuk, tas kutaruh di tempat yang sudah dibooking oleh sahabat baikku, yap Farah. Namun saat aku ingin duduk, kulihat wajah farah memerah dan matanya terlihat sayu seperti orang yang menangis. Tak tega aku melihatnya, langsung saja kuberikan tisu yang sengaja kubawa dari rumah. Farah dan aku memang teman yang sangat dekat sekali, kami dianggap seperti orang pacaran karena kemana-mana selalu bersamanya. Alasanku mengapa selalu kemana-mana bersamanya karena dia orangnya baik,sabar,penyayang, dan rumahnya berada di komplek sebelah. Lama juga ia curhat kepadaku tentang masalahnya dan aku hanya bisa memberikan saran-saran ringan kepadanya. Tak terasa satu jam pelajaran telah kulalui tanpa mendapat ilmu apapun di kepalaku hari ini. Akhirnya bel istirahat pun berkumandang membuat teman-temanku berhamburan keluar kelas. Aku juga berniat ke kantin sebenarnya, namun belum juga keluar kelas, tiba-tiba bu Nita memanggilku.

“Arsyah, kesini sebentar.”

“Iya bu ada apa ya?” Kuhampiri bu Nita yang tengah duduk di bangku depan kelasku.

“Temenin ibu ke kantin yuk, ibu traktir deh terserah mau beli apa.”

Wah pucuk dicinta ulam pun tiba nih, “Terima kasih bu, apa tidak apa-apa bu, takut ngerpotin saya bu.”

“Udahh gapapa, saya juga laper ini, butuh temen ngobrol juga.”

Aku berjalan berdampingan bersama bu Nita, semua mata tertuju kepada kami disepanjang lorong sekolah. Bukan kami sih, lebih tepatnya ke bu Nita, yang tampil sangat cantik hari ini, beruntung sekali aku hari ini bisa diajak makan bu Nita. Tibalah kami di kantin, langsung saja kupesan nasi uduk komplit dan bu Nita memesan nasi soto. Sembari menunggu kami saling mengobrol ringan tentang tugasku di biologi.

“Gimana syah, tugasnya yang kemarin ada yang susah?” Tanyanya memecah kebisuan diantara kami

“Ehh, nggak ada bu, sudah saya kerjakan semua kemarin.”

“Wah bagus deh kalau gitu, cepet juga kamu ngerjain ya, padahal banyak itu.”

“Hehehe, saya semangat kok bu, kalo tugasnya dari bu Nita pasti saya langsung semangat.” Jawabku dengan penuh semangat membara kepadanya.

“Hahahaha, bisa aja sih Arsyah, jangan lupa ya hari sabtu sore, ibu tunggu dikosan.”

“Kalau sampai kamu ga ngumpulin, ibu gak mau bantuin lagi.” Ancamnya kepadaku, aku sih nurut saja biar nilaiku terangkat

“Siap bu laksanakan.” Kuhabiskan makan ku begitu pula dengan bu Nita

“Terima kasih bu, terbaik deh bu Nita, jangan sungkan-sungkan ya bu ngajak saya makan lagi heheheh.”

“Ihhh siapa juga yang mau ngajak kamu lagi nanti, harusnya kamu yang ngajakin, biar impas hihihi.” Cukup kaget aku mendengarnya, apakah ini sebuah kode? Ini masih menjadi misteri.

“Bercanda kok syah hihihi, dah yuk kembali ke kelas.” Sautnya kepadaku, aku masih memikirkan kata-katanya yang terngiang di otakku.

Kami berdua akhirnya kembali ke kelas, karena bel masuk sudah berbunyi sedari tadi. Begitu masuk kelas, semua pandangan kaum lelaki langsung mengarah padaku, dipandanginya diriku seperti mangsa yang siap untuk diterkam. Mungkin mereka tidak rela jika guru favorit nya mengajak makan seorang pemuda bernama Arsyah. Aku langsung duduk di samping Farah, dan langsung si Feri dan Ray yang notabene duduk di bangku depan kami berbalik badan menanyaiku kenapa bisa diajak bu Nita. Kujawab pertanyaan dari barisan fans bu Nita satu-persatu dengan santainya.

“Heh lu kok bisa diajak bu Nita sih.” Feri bertanya kepadaku

“Iya lu pakai guna-guna ya? Parah lu syah, guru sendiri di guna-guna.” Kali ini Ray yang menginterogasiku.

“Begini ya teman-temanku fans ibu Nita, gue sebenarnya diajakin bu Nita tadi gara-gara lapar terus gaada temen jadinya gue yang disuruh nemenin.” Jelasku pada mereka berdua, semoga saja mereka paham dan tidak menanyaiku.

“Ahh boong lu syah, bilang aja pakai guna-guna, bu Nita tuh ga pernah tuh ngajakin cowok makan disekolah ini buat makan, baru pertama kali ini Cuma elu doang.” Ray masih tidak percaya dengan omonganku

“Iya nih selama gue melakukan pengamatan ke bu Nita, baru lu doang yang diajak makan, ahh sial lo syah bikin iri kita-kita aja dah.” Ujar Feri menambahkan apa yang dikatakan Ray, namun aku hanya bisa menjawab seadanya sesuai fakta. Ku perlakukan seperti itu terus akhirnya mereka capek juga menanyaiku, farah disebelahku hanya bisa tertawa manis mendengar kelakuan teman-temannya yang aneh seperti ini.

*Ting tung “seluruh pelajaran hari ini telah selesai, sampai jumpa besok pagi dengan semangat belajar baru” Tung ting *

Tepat pukul 16.00 bel berbunyi, lantas ku kemasi buku ku kedalam tas, kemudian segera aku meninggalkan kelasku untuk pulang ke rumah. Didepan sekolahku aku menunggu supir pribadiku untuk menjemput, yap, siapa lagi kalo bukan abang supir angkot. 20 menit aku menghabiskan waktu di dalam angkot yang penuh sesak dengan anak-anak sekolah, akhirnya aku menginjakkan kaki lagi di rumahku ini.

“Ahh capeknya hari ini, pusing kepala di hajar fisika jam terakhir tadi.” Ucapku sambil merebahkan diri di tempat tidurku sendiri, kulolosi satu persatu seragamku, dan kini aku hanya bercelana kolor saja.

Ngapain ya enaknya, bingung juga jam segini mau ngapain. Tugas udah selesai semua, cucian udah ga ada, rumah udah bersih. Bikin kegiatan apaan ya enaknya, ahh, mending nonton film aja dah di laptopnya kak siska. Dengan langkah gontai aku menuju kamar kak siska, lalu kubuka sebuah situs penyedia film terkenal laki21.co , lama aku mencari-cari film yang bisa bikin otak mikir. Hingga sampai akhirnya aku menemukannya, film predestination ini keren kalo ngeliat reviewnya, kuputuskan untuk menontonnya. Gila sih ini film, ceritanya tentang paradoks kehidupannya sendiri, best movie lah ini bikin puyeng kepala juga kalo ga memahami bener-bener. Di tengah-tengah menonton, kudengar kak siska sudah pulang, langsung saja aku keluar dan membuka gerbangnya tak mau lagi aku membiarkannya ber lama-lama menunggu. Lantas aku kembali ke kamar kak siska kemudian kulanjutkan ritual menontonku yang tertunda. Kak siska yang telah usai memarkirkan mobilnya kini memilih untuk merebahkan diri di kasurnya sambil memainkan hp nya.

“Nonton apaan sih dek?” tanyanya memecah keheningan di kamar kak siska

“Ohh ini film predestination kak, bagus nih, film yang bikin kita mikir, the best dah kak.”

“Ada romance nya gak dek? Kalo gaada kakak males nonton.”

“Buseet, ini sih Cuma dikit, kalo mau banyak nonton drakor aja sono.”

“Hihihihi, mending nonton drakor dek, udah ganteng-ganteng, filmnya bikin mewek, romance banget dah, kamu kakak saranin nonton biar bisa cari cewe.” Dasar kak siska, malah nyuruh aku nonton drakor yang jelas-jelas aku gak suka.

“Ahh males kak nonton drakor, yee kakak juga jomblo gitu cari juga sana, malah nyuruh-nyuruh aku.”

“Ihhh udah ada yeee, wleek…” ucapnya mengejekku sambil mengeluarkan lidah nya.

“Ahh ga percaya, bawa sini dulu, baru aku percaya kak hahahaha.”

“Huuu, kalo kakak kenalin jangan sakit hati ya kamu dek.” Ancamnya padaku kali ini

“Ga bakalan dah kak, itu sih kalo kakak ada hahaha.” Semoga saja tidak ada, bisa sakit aku melihatnya, setidaknya biar kunikmati dulu kak siska, kunikmati rasa sayangnya hehehe.

“Masih lama dek?”

“Gak kok kurang 5 menit nih, emang ada apa kak?”

“Ohhh yaudah, gapapa kok kakak tungguin kalo gitu.”

5 menit kemudian..

“Nahh akhirnya selesai, serius dah kak bagus banget ini kakak harus nonton pokoknya!” ucapku berapi-api pada kak siska yang tengah terduduk manis di kasurnya

“Gak mau ah dek, ehh dek, keluar dulu sana, kakak mau ganti baju, gerah nih.”

“Males ah kak, masih ngecas hp juga nih disini.” Wah ganti baju nih kak siska, aku tidak boleh menyia-nyiakan momen kali ini.

“Halaah kamu ini bisa ngecas di kamarmu kan, udah keluar sana.” Ucapnya sambil mendorong-dorongku dari tempat tidur agar aku keluar.

“Gak mau kakaaak, ini nih hp ku masih 50%, udah sih ganti aja napa disini ngapain malu juga sama aku.” Jawabku meyakinkan, agar ia mau ganti di depanku.

“Hmmm gimana ya dek, tapi kamu jangan ngintip!”

“Siap kak!”Sambil kuarahkan pandaganku ke layar hp ku, kucoba untuk membuka instagram agar suasana adikku cair. Akhirnya kak siska mau berganti pakaian dikamarnya dengan ada diriku di dekatnya. Dengan sedikit malu-malu kak siska melepas satu persatu kancing kemeja nya. Aku hanya bisa mencuri-curi pandang melihatnya, kancing demi kancing ia buka hingga kini terbuka semuanya. Dengan perlahan ia membuka baju nya pelan tapi pasti kini terlihat bra nya yang membungkus kedua bongkahan gunung kegemaran para lelaki. Ughh gede banget sih kak, ga ada bosennya dah ngeliatin tetek mu kak.

“Heh ngeliatin apaan kamu dek! Udah dibilangin jangan ngintip!” kaget aku terpergoki kak siska. Namun nafsu lelaki memang sangat tinggi, tidak peduli lagi aku terkena marah, yang penting sekarang aku bisa melihat kakakku ganti baju didepan mata ku sendiri. Selesai urusan dengan kemejanya, kak siska mengambil tanktop kegemarannya di dalam lemari, sehingga ia membelakangiku. Tampat dari belakang pengait bra nya yang berwarna putih itu seakan ingin kulepaskan saja, namun aku masih dapat menahan gejolak yang ditimbulkan nafsuku. Sekarang kak siska sudah memakai tanktop nya, namun masih ada satu yang belum dibuka olehnya. Yap, tidak lain tidak bukan adalah rok spannya.

Kak Siska :
Hidden Content:

Anda harus like agar dapat melihat konten ini.

“Dek keluar aja yah, malu nih kakak kalo yg rok ini.”

“Udaah gapapa kaak, ngapain juga malu sama arsyah, kan arsyah adiknya kak siska” jawabku agar ia tidak malu dengan adanya diriku di hadapannya.

“Iyaa deh iya, biar kamu seneng, kakak lakuin dah pokoknya.” Dengan berat hati kak siska akhirnya menuruti kemauanku. Diturunkannya resleting dipinggangnya, kemudian dengan perlahan-lahan kak siska menurunkan rok ketat nya. Rok ini sungguh ketat menurutku karena sangat fit sekali dengan pinggul dan bokong kak siska. Mulailah terlihat sebuah benda suci berwarna putih di balik rok kak siska. Celana dalam kak siska sukses membuatku ngaceng, sengaceng-ngacengnya.

“Astaga, ternyata seksi banget kalo Cuma pake celana dalam dan tanktop saja kak siska, itu juga tuh lekukan vaginamu kak keliatan banget, fix dah ini tembem pasti.” Gumamku dalam hati sambil menikmati sajian kakakku dihadapanku kali ini. aku membayang-bayangkan bagaimana bentuk asli dari vagina kak siska, kalau Cuma yang kemarin waktu selesai mandi itu masih kurang karena Cuma sekejap saja. Tapi kali ini, benar-benar lekukannya terlihat jelas vagina kak siska. Kak siska lalu buru-buru memakai celana pendeknya. Ahh, aku jadi sangat tinggi kali ini butuh pelampiasan, seketika itu kukeluarkan adikku dari sarangnya tanpa sepengetahuan kak siska yang sedang menaruh pakaian kotornya di belakan pintu. Perlahan-lahan kukocok naik turun secara berirama, nikmatnya onani ditempat ini lagi.

Cleek… cleekk… clekkk…

Begitulah suara yang kutimbulkan kali ini, mungkin penasaran dengan suara berisik dikamarnya, kak siska akhirnya berbalik badan menghadapku, dan…

“ARSYAAAAH!! NGAPAIN KAMU ONANI DI KAMAR KAKAK LAGI, BELUM PUAS APA YANG TADI MALEM!” ucapnya dengan terperanjat kaget melihat diriku beronani ria tanpa dosa dihadapannya.

“Ahh ad-duh kak, udah nanggung ini, arsyah gak kuat ngeliat kakak tadi.” Ucapku sambil terus mengocok penis ku di depan kakakku.

“Tuhkan, kakak tadi nyuruh kamu keluar ya karena hal ini nih.” Jawabnya dengan kesal sambil menunjuk-nujuk kearah kocokanku.

Cleek… cleekk… clekkk…

“Habis kakak juga sih yang cantik, manis, seksi pula, perfect deh buat kak siska, gaada yang ngalahin.” Kupuji kak siska seperti kecap nomor 1 agar ia membolehkanku mengeluarkan calon-calon presiden di kamar ini lagi.

“Halah dek gombal kamu itu, bilang aja kamu nafsu sama kakak sendiri, gausah bohong!” ucapnya dengan kesal kearahku

“Ahhhh iya sih kak, habis gimana yak, kakak itu perfect banget dimataku.”

“Tuhkan, adekku ini akhirnya ngakuin juga, kalo udah nafsu sama kakaknya, ngomong-omong kamu kok bisa sih dek nafsu sama kakak.” Ucapnya dengan kesal kearahku.

“Ehhh, it.. ituu kak gara-garanya.” Ucapku sambil menunjuk kearah kedua buah dadanya yang menggantung tertutupi oleh tanktop kegemarannya.

“Astaga adek! Jadi kamu selama ini, kalo liat dada kakak, kamu langsung jadi kaya begini, gak nyangka kakak.” Kak siska hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala atas kelakuanku ini.

Cleek… cleekk… clekkk… masih tetap kukocok naik turun penisku ini.

“Yyaa.. yyaaa habisnya kak, aku kan juga cowo normal, mana ada sih cowo yang tahan ngeliatnya.”

“Yaudah deh mulai besok kakak ga pake yang terbuka lagi di rumah, biar kamu ga ngeliatin mulu hihihihi.” Ucapnya sambil tertawa senang dengan pemikirannya yang bisa membuatku tidak bisa cuci mata lagi.

“Add.. duuh, jangan dong kak, gak seru jadinya.” Tolakku kepadanya agar ia mengurungkan niatnya tidak memakai yang blak-blakan lagi.

“Hihihi, dasar adek mesum! Eh dek kok itu belum keluar sih?”

“ahhh ga tau nih kak, tangan ku juga udah pegel ini.” ucapku dengan kata yang memancing-mancing kak siska.

“Aduuh kasiannya, tangannya capek ya pasti.” Kini ia mendekatiku dan mengelus-elus… tanganku. “Hihihihi mampu lu dek tanganmu capek.”

Cleek… cleekk… clekkk…

“Ahhh kak bantuin napahh, pegel nih tanganku kak.” Pintaku kepadanya, Semoga saja kak siska mau dengan wajah yang seakan sudah capek ini.

“Yeeee, males dah, itu kan urusanmu sendiri, wleeek.” Ucapnya sambil memeletkan lidah.

“Add… duuh ayolah kak, bentar doang ini.” Kuraih tangannya kali ini.

“Hiiiih dasar dah ini anak, kakak sendiri disuruh bantuin onani! Dah kamu berdiri sini dek, kali ini aja ya kakak bantuin, kasian ngeliat kamu udah capek.” Kini kak siska mendekatiku, kemudian dengan dengan malu-malu ia meraih adikku yang berdiri tegak. Dipegangnya kini tubuh adikku, mendapat respon seperti itu, kontolku semakin tegak berdiri mengacung mengarah ke kak siska.

“Ahh kak, baru dipegang aja udah enak ini, makasih ya kak, baiiiiiik banget deh.” Ucapku dengan pujian yang sangat tinggi kepadanya.

“Kalo bukan kasian, udah tak marahin habis-habisan kamu dek!” ucapnya dengan nada kesal, namun kali ini ia mulai memaju mundurkan adikku dengan tangannya. Posisiku saat ini berdiri, sedangkan kak siska berada dibawah dengan duduk bersimpuh pada lutut. Momen ini sangat tak terlupakan dibenakku, seorang adik berhasil membuat kakakknya membantu onani.

“Akkhhh kaak siskaaa, enak banget ini.” racauku memanggil nama kak siska yang dengan telaten ia mengurut-urut adikku.

“Enak banget ya dek, sampek matamu merem melek gitu hihihihih.” Tawanya yang centil itu seakan menambah efek ingin mengeluarkan cairan kenikmatan.

“Bangettttt kak, rajin-rajin aja yah kak giniin aku, hehehehe.” Bujukku secara gamblang kepadanya.

Cleek… cleekk… clekkk… tangan mulus nan mungil itu melingkar di batangku, mengasah dengan telaten seluruh tubuh adikku, mulai dari kepala hingga pangkalnya tak luput dari kocokan kak siska. Seperti ini ternyata rasanya dikocokin oleh cewek lebih enak daripada ngocok sendiri, apalagi kali ini cewe itu adalah kakakku sendiri, kak siska.

“Ahhh kamu mah, kalau dikocokin begini selalu pasti minta tiap hari dek, tar tangan kakak lecet ini hihihi.”

“Gap… gapapa kak, sekalian menambah pahala hehehehe.” Aku semakin tak kuat dengan siksaan nafsu yang diberikan kak siska terhadap adikku dibawah sana. Setiap aku memandang dibawah sana, ingin sekali aku rasanya langsung menjejalkan adikku ini ke mulut kak siska. Namun biarlah dulu, daripada aku gak jadi dapet servis darinya hahaha.

“Ahhh kak ennn..naaak ini, lebih enak dari ngocok sendiri kak.” Sebuah tanda-tanda sudah muncul, saatnya mengeluarkan benih-benih unggulanku. Ahh aku punya ide, kukeluarkan saja tanpa memberitahunya, biar dia basah peju ku kali ini.

“Hihihihi, dasar adek messs-“ dan croott…

“Ahhh… ahhh… ahhh… terima ini kaaaaaaak…” croott… crottt… croott, kutembakkan pejuku tepat dihadapan kak siska, wajah, dan dada kak siska penuh semua belepotan dengan cairan kental yang diproduksi adikku. Entah berapa banyak aku mengeluarkan barusan, yang pasti kak siska sudah belepotan pejuku.

“KKYAAAAAAA, ADEEEEEEEK KOK GAK NGOMONG DULU SIH, JADI BELEPOTAN KAN! NAKAL KAMU DEK!” ucapnya sambil matanya terpejam karena wajah cantiknya itu kini tertutupi oleh lelehan sperma kental.

“Astagaaaa, maaf kak, udah gak keburu ini tadi mau ngomong, habisnya keenakan sih.” Jawabku dengan berbohong agar ia tak bertambah kesal.

“ADUUUUH GIMANA INI, DEK AMBILIN BAJU KOTOR KAKAK DONG.” Ucapnya dengan setengah berteriak memerintahkanku. Segera saja ku ambil baju kotor kak siska, namun aku ingin mengerjainya lagi, kuambil celana dalamnya yang kotor tadi pagi saja hahaha.

“Nih kak.” Ujarku sambil menyodorkan celana dalam nya.

“Ihh kok kecil sih dek.” Tanyanya dengan curiga.

“Ohh itu tadi ada sapu tangan di saku celana ku kak, gapapa pake aja, biar nanti aku yang nyuci.” Akhirnya prank kedua berhasil juga. Lantas kak siska mengelapi muka yang belepotan spermaku itu dengan celana dalamnya. Ia tidak sadar bahwa yang ia pakai adalah celana dalamnya sendiri. Setelah wajahnya bersih dari segala bentuk peju ku, akhirnya ia membuka mata.

“AHHH GILA KAMU DEK! MASA KAKAK DI SURUH LAP PAKE CELANA DALAMNYA SENDIRI! BENER BENER KAMU HARI INI.” ucapnya dengan kesal sekali kearahku yang berhasil mengerjainya dua kali dalam hai ini.

“Hehehehe, gapapa kak, keliatan seksi loh tadi waktu belepotan spermaku kak.”

“Seksi, palelo kotak! Kesel deh kakak hari ini, udah disuruh ngocokin sampe tangan capek, pas waktu keluar malah diarahin ke wajah kakak jadi deh belepotan, terus minta baju buat lap malah dikasi cd kakak, bener-bener adek mesummmmm kamu dek!” ucapnya dengan kesal sekesal kesalnya terhadapku.

“Anggap aja ya kak itu bonus dari Arsyah dan untuk terakhir, terima kasih kakakku yang cantik.

tamat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kakak Cantik"

Posting Komentar